Keep going while wait

I read this somewhere, and somehow this could keep me going for now.

“While you’re on your formative years (and she mean up to 25 or even longer), don’t stop your journey for someone else to derail it. You go on your journey (study, work, travel) and if someone really loves you, they’ll go parallel to you until the time is right to board on the same train. Do not let someone take you off your path, keep your eye on the destination and be persistent.

You’ll find a person your heart wants to be with desperately, and if that person wants to be with you, their heart should feel the same way.”

image

This photo was taken at the station on the way back to Osaka Airport (KIX), Japan, Spring 2017

Advertisements

transportasi publik di Bandung

Cuma ingin sharing, karena ada beberapa orang yang nanya kenapa saya masih mau naik kendaraan umum di Bandung selama setahun terakhir setelah saya kembali ke kota ini. Sebenarnya banyak sih alasannya.. (maaf ini akan panjang)

Pertama, jarak dari rumah orang tua (di daerah Arcamanik-Ujung Berung) itu sekitar 10 km dari kampus ITB dan kebetulan dekat dengan jalan utama AH Nasution dimana banyak angkot lewat situ. Kalau naik angkot pink jurusan Gedebage-Dago, saya tinggal duduk manis dari depan kompleks rumah sampai RS. Borromeus dan tarifnya sangat murah sekitar Rp 6000 saja. Walaupun sering juga diturunin sebelum sampai tujuan karena penumpang tinggal saya sendiri. Saya naik angkot ini sudah dari 2007 saat kuliah dulu jadi yaa anggap aja nostalgia dikit. Oiya, akibatnya sekarang sneakers saya jadi lebih banyak daripada sepatu atau sendal cantik karena jalanan becek tuh rrrrrr ūüėÖ

Kedua, setelah hampir 1 dekade waktu tempuh yang tadinya hanya sekitar 40 menit bisa jadi 150 menit kalau bawa mobil pribadi dan macetnya lagi ngga karuan. Logikanya sih kalau naik kendaraan dengan kecepatan 40km/jam harusnya cuma 15 menit, tapi diliat dari jumlah kendaraan berbanding panjang dan lebar jalan sekarang, ini agak sulit. Ditambah lagi jumlah penduduk di kota dan kabupaten Bandung sekarang berapa, dan banyak yang pakai kendaraan pribadi. Kebayang kan? Kalau saya sih selain emang ngga punya juga (ada sih mobil orang tua yang jarang dipakai) terus mikirin bensin, parkir, nyuci, dan nyetirnya, belom kalau nyenggol sesuatu. hmm ūüė©. Untuk sekarang karena belum ada tanggungan, tabungannya mending buat yang lain aja atau jalan-jalan. ūüėā

Ketiga, jalanan yang makin macet ini sekarang sudah didukung oleh beberapa aplikasi baru seperti uber, gojek, grab. Terus terang ini yang paling menjawab kebutuhan saya saat ini. Karena naik angkot lama dan ngetem, naik mobil pribadi juga sama macetnya malah bikin cape sendiri, dan saya ngga berani nyetir motor di Bandung, saya pilih naik gojek kalau buru-buru, dan naik gocar/uber kalau hujan dan kemaleman. Jadi ngga perlu minta orang rumah untuk jemput. Biayanya pun setelah dihitung masih lebih murah dari sewa kostan deket kampus atau bawa mobil sendiri.

Keempat, karena rute perjalanan angkot saya sangat jauh, saya senang liat dan memperhatikan berbagai macam orang dan perubahan pembangunan kota di Bandung. Kadang menarik juga loh ngeliat anak SD, SMP, SMA, dan kuliah jaman sekarang kaya gimana. Atau ngeliatin hal-hal yang dilewati selama perjalanan, kalau nyetir mobil sendiri, rasanya susah dan bahaya. Kalau emang saya sudah terlalu capek, paling tinggal pasang headset aja dengerin lagu atau browsing2 internet. Sering juga saya ngobrol basa-basi sama supir angkot atau penumpang lain. Hal ini yang menjadi daily reminder untuk saya selalu bersyukur dan waspada setiap saat.

Terakhir, sebenernya memilih untuk tidak memakai kendaraan milik pribadi adalah cara saya untuk protes. Sehingga saya memiliki hak yang utuh untuk mengeluh jika jalanan semakin padat dan macet meradang dimana-mana. Setidaknya, keberadaan saya tidak menuh-menuhin jalanan dengan tidak membawa mobil sendiri dan jika diliat dari sisi ilmiah, gas CO yang dikeluarkan dari kendaraan bermotor yang saya tumpangi dibagi rata dengan driver dan penumpang lain. Isu tentang sumber daya alam tak terbarukan yang sudah hampir habis, global warming, efek rumah kaca, dan kerusakan lingkungan lainnya tentunya (harusnya) semua penduduk Indonesia terutama kota besar yang notabene lebih ‘pintar’ sudah pada tau dan paham dong yaa..

Kadang gemes liat Bandung yang makin lama kok jadi begini. Makin macet dan rudet. Inginnya sih kota besar di Indonesia transportasi publiknya bisa integrated dan bagus seperti di luar negeri. Mba-mba cantik dan mas-mas ganteng di London, New York, Amsterdam, Paris, Berlin, Munich, Milan, Madrid, Seoul, dan kota-kota besar lainnya di luaran sana aja mau naik bus atau subway. Bahkan pernah liat mba dan mas di Venice mau pesta udah dandan maksimal tetep naik perahu umum bareng yang lain. ūüėÖ Coba bayangin kalau kita naik kereta dari Bandung Timur ke Pusat Kota bisa kurang dari 20 menit aja. Atau naik bus biar yang difable atau bawa stroller bayi tetep bisa naik dan turun kendaraan dengan mudah. Memang dalam beberapa tahun terakhir sudah keliatan loh usaha pemkot untuk mengubah Bandung jadi lebih baik. Tapi kalau usaha mereka yang baik ini tidak didukung oleh masyarakatnya, buat apa?

malam takbiran

Kita memang tidak pernah tahu rencana Tuhan Sang Pemilik alam semesta ini. Tahun lalu, tahun ini, dan tahun depan mungkin cerita hidup tiap orang bisa berbeda.

Tahun ini, saya dan orang tua memutuskan untuk solat Idul Fitri di Bandung, dan baru akan mudik ke Solo malam hari H lebaran. Terakhir solat Idul Fitri di Bandung, 10 tahun lalu. Itupun terpaksa karena ada kejadian mendadak. Well, that was bad memories of mine. Selama 26 tahun ini, rasanya saya hampir selalu berlebaran di Solo, ikut keluarga besar Bapak. Namun tahun ini, bisa bermalam takbiran di kamar sendiri sambil mendengarkan yang lagi takbiran di masjid membuat pikiran melayang-layang ingat lebaran tahun lalu.

Idul Fitri 1436H, saya berlebaran jauh dari orang tua dan kampung halaman, karena sedang tinggal di negara dimana Muslim adalah minoritas. Ramadhan 2015, saya berpuasa lebih dari 18 jam sehari, karena disana sedang summer sehingga matahari muncul lebih lama. Rasanya dalam sebulan pola hidup berubah total karena jarak waktu buka puasa dan sahur yang beda tipis. Ditambah mengerjakan tesis, sempat ada heatwave juga, dan puncak-puncaknya homesick. Menjelang lebaran, di supermarket atau pusat perbelanjaan tidak ada promo-promo untuk makanan dan perlengkapan Idul Fitri. Malam takbiran, saya masak-masak dengan housemates sambil memasang video takbiran dari youtube di dapur. Tidak seperti di Indonesia, pulau Jawa khususnya, dimana suara gema takbir terdengar bersaut-sautan.  Seusai solat Ied pun, yang ritual biasanya sungkeman dengan orang tua dan keluarga besar, mau video call dengan mereka aja sulit karena terkendala sinyal telepon yang tidak stabil di kampung. Sedih? Pastinya. Yang membuat saya bisa bertahan disana adalah keberadaan teman-teman seperjuangan yang juga mengalami hal yang sama ditambah doa orang tua yang kayanya ngga pernah putus..

Pengalaman¬†setahun tinggal jauh dari rumah merupakan salah satu pendewasaan saya. Sekarang, sepertinya pola pikir saya mulai sedikit berubah. Terutama dalam mengambil keputusan atau menghadapi masalah. Kalau kata bukunya Diana Rikasari, ‘I have made peace with the fact that life can be so hard and unfair at times, and that’s okay. I just need to toughen up and be grateful about many other things.’ Karena itu, kadang saya terlihat lebih cuek, logis, dan¬†galak.

Tahun depan, saya masih belum bisa membayangkan akan seperti apa. Rencana mungkin ada, tapi kenyataannya akan bagaimana, we’ll see..

belajar intensif IELTS di Kampung Inggris, Pare

Beberapa hari pertama tahun 2014, waktu itu saya mencari-cari tempat persiapan Toefl IBT yang intensif, hasilnya bisa maksimal, tapi biayanya terjangkau. Kenapa IBT karena itu merupakan syarat kemampuan bahasa inggris yang diminta kampus luar negeri, saya juga lupa kenapa waktu itu ngga nyari tau tentang IELTS. Singkat cerita, tiba-tiba saya kepikiran tentang kampung inggris di Pare, Kediri. Memang ada salah satu teman yang pernah kesana tapi bukan untuk program IBT atau IELTS. Saya pun browsing kesana kemari nyari tempat les yang menyediakan program persiapan IBT. Muncullah website TEST English School yang kayanya programnya pas untuk kebutuhan saya. Saya pun langsung menelpon kesana dan ternyata untuk intake bulan Januari hanya ada program IELTS, dan tanpa pikir panjang saya pun akhirnya berangkat kesana.

Screen Shot 2015-12-16 at 4.15.46 PM

Sebenernya saya berangkat kesana dengan modal nekat, ngga tahu disana belajarnya kaya apa, ntar temennya siapa, tempat tinggalnya gimana, dan lain sebagainya. Tapi karena emang niat belajar bahasa inggris udah bulat dan kepepet waktu juga, jadi emang ngga ada pilihan lain. Di TEST saya ambil program persiapan IELTS selama 5 minggu. Biaya yang dibayar sudah¬†all in, termasuk buku latihan soal dan sewa kamar. Biaya makan dan laundry ditanggung sendiri, tapi biaya hidup disana cukup murah kok ūüôā Sampai sana saya bertemu dengan teman baru yang rata-rata emang rencana mau cari beasiswa sekolah ke luar negeri. Ada juga teman dari program lain yang muridnya bahkan masih SMP. Teman sekamar saya waktu itu berasal dari Jakarta dan Depok, dan¬†dengan teman seprogram lain berasal dari berbagai macam kota di Indonesia. Kami sekelas total ada 11 orang.

Tiap hari (Senin-Sabtu), kelas dimulai jam 5.30 pagi dan selesai jam 21.30 malam. Kelas dibagi dalam beberapa sesi, seperti speaking, reading, listening, writing, dan ada multimedia class di malam hari. Tentunya setiap ganti sesi ada istirahat makan, solat, mandi, dll. Tiap hari kami menjajal latihan soal test IELTS dengan menggunakan lembar jawaban yang mirip dengan tes beneran. Tim pengajarnya adalah murid TEST-ES angkatan sebelumnya yang hasil tes IELTS mereka tidak diragukan lagi. Hal ini menjadi semangat bagi kami untuk bisa mencapai target nilai yang diinginkan. Di awal memang terasa berat karena jadwal padat, namun teman-teman seperjuangan selalu mendukung satu sama lain.

Hari minggu adalah hari libur di TEST-ES. Biasanya kami jalan-jalan nyewa angkot ke Kediri untuk sekedar makan fast food, keliling kota Pare naik sepeda,¬†atau bahkan wisata ke Jatim Park dan Gunung Bromo. Disana saya termasuk angkatan tua, karena yang lain rata-rata masih fresh graduate atau bahkan belum lulus kuliah. Semua murid disana punya negara incaran yang beragam, ada yang mau ke UK, Jerman, Australia, US, dll¬†sedangkan saat itu saya ingin ke Belanda. Dulu kami sering bergurau dan menghayal siapa tau bisa ketemuan di luar negeri sesama alumni TEST-ES. Salut banget dengan semangat mereka, karena dibandingkan¬†waktu jaman kuliah dulu, saya ngga pernah kepikiran untuk memperdalam bahasa inggris yang ternyata penting banget.¬†Seru dan senang rasanya punya teman-teman baru yang memiliki impian¬†yang sama,¬†yaitu¬†sekolah ke luar negeri¬†ūüėÄ

Video karya teman sekelas saya tentang kegiatan di TEST-ES periode Januari 2014 bisa diliat¬†.¬†O iya, untuk lebih tahu tentang program dan info TEST-ES bisa dilihat di¬†website TEST¬†atau di fb TEST. ūüôā

This slideshow requires JavaScript.

pilihan sulit di Desember 2013

Kalau orang bilang makin tua pilihan hidup makin sulit dan semua keputusan akan ngaruh ke kehidupan selanjutnya, mungkin emang ada benernya¬†kali yaa….

Desember 2013 dan taun baru 2014¬†adalah masa-masa paling ‘mikir’ selama hidup saya sampai sekarang *lebay sedikit*. Waktu itu kontrak kerja udah abis dan lagi proses¬†perpanjang, pengen lanjut kuliah lagi¬†dan cari beasiswa, tapi toefl masih jongkok banget. ūüė¶

Semenjak pertengahan 2013 saya emang udah mulai browsing sana sini nyari kampus dan jurusan incaran, beasiswa, beserta semua persyaratannya. Sambil curi-curi jam kerja, saya mulai bikin motivation letter dkk. Saya udah beberapa kali ngobrol sama Dept Head tentang rencana lanjut sekolah ini. Tiap weekend saya juga bolak-balik Bandung-Jakarta untuk les privat Toefl sama temen (les di Jakarta superrr banget mahalnya hufff). Awal Desember, saya coba simulation test nya Toefl Ibt untuk ngecek kemampuan, ternyata hasilnya jauuuuuh banget dari target.

Pikiran untuk resign juga sering terlintas karena kalau saat itu perpanjang kontrak setahun lagi, sulit untuk ngejar sekolah yang mulai autumn 2014. Walaupun dari atasan sama orang personalia dan hrd di kantor akhirnya mengizinkan kalau saya perpanjang kontrak hanya beberapa bulan saja sebelum pertengahan tahun 2014 untuk persiapan sekolah dan cari beasiswa. Tapi, ngobrol sama beberapa teman yang berencana kuliah lagi tahun 2014 juga liat teman yang lagi lanjut kuliah di luar negeri sebenernya jadi alasan utama kenapa saya ngebet banget pengen resign aja, yaa walaupun jadinya pengalaman kerja cuma 2 tahun.. 

Kerjaan kantor mendadak membludak menjelang akhir tahun. Nyiapin berkas jadi agak sulit karena deadline daftar sekolah dan beasiswa rata-rata sekitar bulan Maret-April. Kalau mau aman sih dapetin loa (letter of acceptance) dari kampus secepat mungkin karena proses beasiswa bisa lebih dari 3 bulan. Kepala makin nyut-nyutan kalau inget hasil simulasi tes Ibt soalnya tes aslinya juga mahal jadi persiapan tes bahasa inggris ini juga emang ngga bisa asal-asalan. Setelah mem-breakdown plus minus kalau lanjut kerja atau resign dan apply sekolah lagi, diskusi sama keluarga dan meyakinkan diri sendiri, akhirnya saya memberanikan diri ngajuin resign ke kantor akhir taun 2013. Alhamdulillah Dept Head dan HRD menyetujui walaupun keitungnya cuma 2 weeks notice, tinggal beresin semua kerjaan biar ngga jadi utang. ūüôā

Saya pulang ke Bandung for good pas libur Natal, karena kantor libur sampai Tahun Baru. Niat hati mau serius belajar Toefl di rumah, tapi ternyata banyak banget distraksinya. Malam Tahun Baru 2014 saya habiskan untuk mikir lagi saya maunya apa, kurangnya apa, solusinya kira-kira apa, dan masih banyak lagi. And guess what?? Saya memutuskan untuk berangkat ke kampung Inggris di Pare, Kediri.

hello again!

Truthfully, I have this blog since 6 years ago, but I did not share it in anywhere because the contents are just my random thoughts and i’ll keep some of them :D. It’s been a while since my last post though there were¬†so many things happened in the¬†last three years. From now on, I’ll try to remember those and share it here. For clues, there will be stories about scholarship, study abroad, and trips.

Actually I know nothing about writing, so all¬†I want to do here is to share what i’ve been through¬†but¬†it’s not that I know many things either. Well, see you in the next post! ūüėÄ

2013 and grateful

Almost a year i’ve been worked in this company. Worked at site project for 8 month, checked all the building, gratefully the site was in Bandung. And now i’ve been placed at main office. Jakarta. Worked in the same line with my study, architecture design.

Here, i promised to move on, leave all my comfort zone in Bandung, start something new and look for someone new.

oh, i’ve spent new year eve 2013 at the sweetest moment and place with close friends. love it. hope this is the beginning of all lovable moment for a year ahead. just be grateful for all the life and hope for all the best thing in this year..