Transportasi publik dan stasiun yang arsitektural di Munich

Seperti biasa, lagi di angkot pulang ke rumah tiba-tiba inget beberapa stasiun subway di Munich yang menarik banget desainnya tidak seperti stasiun subway di kota atau negara lain. Jadi ceritanya di hari ke-26 aka hari terakhir eurotrip saya tahun 2015 lalu, saya menutup perjalanan dengan solotrip mengunjungi beberapa stasiun S-Bahn dan U-Bahn di kota Munich. Saat jalan-jalan sehari sebelumnya, saya sering transit di Marienplatz (Munich city center) dan mulai sadar kalau beberapa stasiun subwaynya kok bagus dan sangat arsitektural. Padahal tujuan utama ke Munich tadinya cuma pengen liat Allianz Arena biar bikin sirik Bapak di rumah. hehehe. Kemudian saya pun langsung googling mencari stasiun subway lain siapa tau ada stasiun lain yang menarik untuk dikunjungi.

And, bingo!

IMG_20151014_175541

Marienplatz subway station, one of the busiest train station, designed by Alexander von Branca

Left to right: Candidplatz U1, Westfriedhof U1, Hasenbergl U2

IMG_20151014_161737

IMG_20151014_153818

St.-Quirin-Platz U1 (the curved glass) and Georg-Brauchle-Ring U1 (the colorful rectangles)

Munich adalah ibu kota dan salah satu kota terbesar di Jerman. Jadi tidak aneh jika beberapa stasiun memang niat didesain dengan tema tertentu, dengan menggunakan warna, material, pencahayaan, dll. Untuk saya pribadi, desain berbentuk visual di stasiun seperti ini sangat menarik dan akan lebih mudah diingat apalagi jika stasiun ini adalah tempat transit untuk berganti rute kereta. Desain ini juga membuat sesuatu yang tadinya monoton (misal rutinitas berpindah dari satu tempat ke tempat lain) menjadi lebih menyenangkan dan tidak terlalu membosankan.

Selain itu, sistem S-Bahn dan U-Bahn disini juga termasuk mudah, gampang banget malah. Jalur atau rutenya sangat jelas dan terbaca dengan mudah. Ada beberapa stasiun besar yang berjejer horizontal di tengah (barat-timur) yang dilewati jalur subway yang mengarah ke utara dan selatan untuk menjangkau daerah yang lebih luas. Kalau liat peta jalur subway disini, saya langsung inget Bandung. Kebayang kalau jejeran stasiun horizontal itu membentang dari Jatinangor sampai Pasteur (timur-barat), dan untuk menjangkau daerah lain pakai rute yang utara-selatan. Teorinya sih keliatannya gampang yaa tapi prakteknya yaa gitu deh..

Munich-S-U-Bahn-Map

Munich’s U-Bahn and S-Bahn train map (https://www.chameleonwebservices.co.uk/blog/munich-u-bahn-map/)

Mungkin saya sudah pernah cerita sebelumnya kalau saya memang senang naik transportasi umum, apalagi kalau sistemnya mudah dan integrated seperti ini. Dari sekian kota yang pernah saya kunjungi di Eropa, menurut saya Munich adalah yang paling mudah transportasinya. Jalan-jalan di sana tinggal download peta ini atau banyak juga peta tercetak dalam ukuran yang kecil tapi tetap mudah dibaca. Hampir semua atraksi untuk turis di kota Munich dapat dicapai dengan subway dan saya rasa daerah lain (industrial, perkantoran, dan permukiman) pasti mudah dijangkau juga. Selain itu, ada berbagai macam tiket kereta terusan yang bisa dibeli di mesin di stasiun sesuai kebutuhan.

Kalau di kota-kota besar di Indonesia sistem transportasi umumnya mudah, aman, tepat waktu, stasiun dan terminalnya bagus, serta harga tiketnya terjangkau, kira-kira warganya banyak yang mau pakai transportasi umum ngga yaa??

 

IMG_20151013_173234

Gloomy Munich, Allianz Arena, and me (October 2015)

 

 

 

 

fate, timing, and a heartbreak

“Fate does not come to you at just anytime. It should happen, often at the most dramatic moments brought by coincidence. That is what makes it fate. That is why, another term for fate, is timing. My first love was always held back by that damn ‘timing’.

In the end, fate and timing do not happen, out of coincidence. They are products of earnest, simple choices, that make up miraculous moments. Being resolute, making decisions without hesitation… that is what makes timing. He wanted her more than I did. And I should have been more courageous. It was not the traffic light’s fault. It was not timing. It was my hesitations.

Life is like a box of chocolates, you’ll never know what you’re gonna get. You may get a bitter chocolate and there’s nothing else you can do. That is the fate that I’ve chosen. There are no regrets, no tears and there is no need for a heartbreak.” -Jung Hwan, Reply 1988.

reply-1988-poster-540x764

 

Buat para penggemar Kdrama mungkin kalimat-kalimat di atas sudah tidak asing lagi. Itu adalah narasi di adegan film Reply 1988 (Answer me 1988) episode 18. It was the most heartbroken scene I’ve ever watched. Saking kecewanya nonton episode ini, butuh waktu beberapa minggu untuk melanjutkan 2 episode selanjutnya. Bukan hanya karena acting pemainnya yang superb, tapi karena adegan ini terlalu relate dengan pengalaman saya. Before there might be too much feeling involved in real love life, one tends to build his/her own wall just to protect himself/herself from the heartbreak. Because one-sided love is the worst, right?

 

Keep going while wait

I read this somewhere, and somehow this could keep me going for now.

“While you’re on your formative years (and she mean up to 25 or even longer), don’t stop your journey for someone else to derail it. You go on your journey (study, work, travel) and if someone really loves you, they’ll go parallel to you until the time is right to board on the same train. Do not let someone take you off your path, keep your eye on the destination and be persistent.

You’ll find a person your heart wants to be with desperately, and if that person wants to be with you, their heart should feel the same way.”

image

This photo was taken at the station on the way back to Osaka Airport (KIX), Japan, Spring 2017

transportasi publik di Bandung

Cuma ingin sharing, karena ada beberapa orang yang nanya kenapa saya masih mau naik kendaraan umum di Bandung selama setahun terakhir setelah saya kembali ke kota ini. Sebenarnya banyak sih alasannya.. (maaf ini akan panjang)

Pertama, jarak dari rumah orang tua (di daerah Arcamanik-Ujung Berung) itu sekitar 10 km dari kampus ITB dan kebetulan dekat dengan jalan utama AH Nasution dimana banyak angkot lewat situ. Kalau naik angkot pink jurusan Gedebage-Dago, saya tinggal duduk manis dari depan kompleks rumah sampai RS. Borromeus dan tarifnya sangat murah sekitar Rp 6000 saja. Walaupun sering juga diturunin sebelum sampai tujuan karena penumpang tinggal saya sendiri. Saya naik angkot ini sudah dari 2007 saat kuliah dulu jadi yaa anggap aja nostalgia dikit. Oiya, akibatnya sekarang sneakers saya jadi lebih banyak daripada sepatu atau sendal cantik karena jalanan becek tuh rrrrrr 😅

Kedua, setelah hampir 1 dekade waktu tempuh yang tadinya hanya sekitar 40 menit bisa jadi 150 menit kalau bawa mobil pribadi dan macetnya lagi ngga karuan. Logikanya sih kalau naik kendaraan dengan kecepatan 40km/jam harusnya cuma 15 menit, tapi diliat dari jumlah kendaraan berbanding panjang dan lebar jalan sekarang, ini agak sulit. Ditambah lagi jumlah penduduk di kota dan kabupaten Bandung sekarang berapa, dan banyak yang pakai kendaraan pribadi. Kebayang kan? Kalau saya sih selain emang ngga punya juga (ada sih mobil orang tua yang jarang dipakai) terus mikirin bensin, parkir, nyuci, dan nyetirnya, belom kalau nyenggol sesuatu. hmm 😩. Untuk sekarang karena belum ada tanggungan, tabungannya mending buat yang lain aja atau jalan-jalan. 😂

Ketiga, jalanan yang makin macet ini sekarang sudah didukung oleh beberapa aplikasi baru seperti uber, gojek, grab. Terus terang ini yang paling menjawab kebutuhan saya saat ini. Karena naik angkot lama dan ngetem, naik mobil pribadi juga sama macetnya malah bikin cape sendiri, dan saya ngga berani nyetir motor di Bandung, saya pilih naik gojek kalau buru-buru, dan naik gocar/uber kalau hujan dan kemaleman. Jadi ngga perlu minta orang rumah untuk jemput. Biayanya pun setelah dihitung masih lebih murah dari sewa kostan deket kampus atau bawa mobil sendiri.

Keempat, karena rute perjalanan angkot saya sangat jauh, saya senang liat dan memperhatikan berbagai macam orang dan perubahan pembangunan kota di Bandung. Kadang menarik juga loh ngeliat anak SD, SMP, SMA, dan kuliah jaman sekarang kaya gimana. Atau ngeliatin hal-hal yang dilewati selama perjalanan, kalau nyetir mobil sendiri, rasanya susah dan bahaya. Kalau emang saya sudah terlalu capek, paling tinggal pasang headset aja dengerin lagu atau browsing2 internet. Sering juga saya ngobrol basa-basi sama supir angkot atau penumpang lain. Hal ini yang menjadi daily reminder untuk saya selalu bersyukur dan waspada setiap saat.

Terakhir, sebenernya memilih untuk tidak memakai kendaraan milik pribadi adalah cara saya untuk protes. Sehingga saya memiliki hak yang utuh untuk mengeluh jika jalanan semakin padat dan macet meradang dimana-mana. Setidaknya, keberadaan saya tidak menuh-menuhin jalanan dengan tidak membawa mobil sendiri dan jika diliat dari sisi ilmiah, gas CO yang dikeluarkan dari kendaraan bermotor yang saya tumpangi dibagi rata dengan driver dan penumpang lain. Isu tentang sumber daya alam tak terbarukan yang sudah hampir habis, global warming, efek rumah kaca, dan kerusakan lingkungan lainnya tentunya (harusnya) semua penduduk Indonesia terutama kota besar yang notabene lebih ‘pintar’ sudah pada tau dan paham dong yaa..

Kadang gemes liat Bandung yang makin lama kok jadi begini. Makin macet dan rudet. Inginnya sih kota besar di Indonesia transportasi publiknya bisa integrated dan bagus seperti di luar negeri. Mba-mba cantik dan mas-mas ganteng di London, New York, Amsterdam, Paris, Berlin, Munich, Milan, Madrid, Seoul, dan kota-kota besar lainnya di luaran sana aja mau naik bus atau subway. Bahkan pernah liat mba dan mas di Venice mau pesta udah dandan maksimal tetep naik perahu umum bareng yang lain. 😅 Coba bayangin kalau kita naik kereta dari Bandung Timur ke Pusat Kota bisa kurang dari 20 menit aja. Atau naik bus biar yang difable atau bawa stroller bayi tetep bisa naik dan turun kendaraan dengan mudah. Memang dalam beberapa tahun terakhir sudah keliatan loh usaha pemkot untuk mengubah Bandung jadi lebih baik. Tapi kalau usaha mereka yang baik ini tidak didukung oleh masyarakatnya, buat apa?

10 days

10 days left for me in this island of god. i really want to go back to bandung but i will miss this island so much.

the sky, beach, sand, wave, laugh, happiness, sadness, work, new friends, office, dogs, motorbike, car, road, underwater, fish, foods, local people,  domestic tourist, foreign tourist, site, project, everything here is wonderful!

pulau dewata

udah sebulan lebih disini.

ke pantai bagus udah,

snorkeling ke spot terbaik udah,

liat air terjun udah,

ke gunung udah,

liat lumba-lumba udah,

 

dari ujung selatan ke utara, timur ke barat, tengah.

apalagi ya yang belom?