Fangirls noona

Jadi gini, sebenarnya saya tau kpop itu udah lumayan lama, sejak jaman kuliah sarjana di taun 2008an. Dulu di himpunan ikutan kelompok minat yang nari-nari jadi mulai saat itu kami sering ngikutin atau cari inspirasi gerakan dari SNSD, F(x), Super Junior, dll. Saat itu juga lagi hits banget di kampus sampai ada yang pasang personil SNSD sebagai wallpaper komputer dan ada juga yang punya harddisk khusus buat video-video mereka. Tapi saya masih belum bisa menerima boygroup untuk jadi idola karena lagunya tidak sesuai selera. Saya juga suka mempertanyakan teman-teman yang rela bayar tiket konser jutaan rupiah saat mereka datang ke Indonesia.

Oya, untuk Kdrama, saya mulai nonton dari zaman Full house tahun 2004 (drama terfavorit sampai sekarang). Sejak saat itu saya lumayan rajin nonton serial Kdrama di tv atau di dvd, karena internet saat itu belum semumpuni sekarang. Saya juga hanya mendengarkan beberapa soundtrack film saja karena lagu dan liriknya bagus-bagus. Tahun 2013, saya akhirnya mulai hanyut ke dunia per-kpopan lagi setelah denger CNBlue. Tapi hanya mereka aja yang lagunya pas sama selera saat itu.

Sampai 2015 saya sudah jarang mendengarkan CNBlue, tapi untuk OST film sih masih ada di playlist. Dan akhirnya, April 2015 saya jatuh ke dalam per-kpopan lagi karena saat itu saya sedang merantau di tempat yang kecepatan internetnya amat sangat mendukung proses fangirling. Jadi ada anak bernama Park Chanyeol dan grupnya bernama EXO dari label group SM Entertainment. Awalnya saya ngga tau ada yang namanya boyband EXO di muka bumi ini, padahal saya tau boygroup dan girlgroup seniornya dari label yang sama, saya juga nonton Kdrama It’s Okay That’s Love yang mana ada DO, anggota EXO juga. Tau Park Chanyeol juga gara-gara nonton Roommates karena saya suka Lee Dongwook. Mulailah saya cari EXO di youtube, wikipedia, fanpage, dailymotion, tumblr, dan website lain untuk mencari tau personality nya, semua reality show yang ada merekanya, sampai kemelut yang ada di grup tersebut karena 3 member yang mengundurkan diri, dan hal-hal lainnya.

Yang membuat saya langsung suka sama dedek2 EXO ini  adalah lagunya pas sama selera, kebanyakan genrenya hip hop dan RnB, lagu ballads nya juara, dan dancenya tuh, DUH! Jadi pengen nari lagi. Performance di konser-konsernya A+++. Their vocals tho!!! Saya pernah bahas ini sama temen, jadi kalau Chen atau Kim Jongdae itu suaranya kaya ‘Tequila shot on a friday night’, Byun Baekhyun itu kaya ‘Honey milky in a spring breeze’, bahkan humming aja indah, Do Kyungsoo itu kaya ‘Hot Chocolate in a snowy winter’. And of course Park Chanyeol with his baritone and deep and low voice, finally this group slowly push me into this hole until now, 2017.

Setelah 2 tahun lebih mengenal mereka dari video-video di layar komputer dan handphone, beli beberapa album, dan nonton konser, akhirnya saya sadar dan mengerti kenapa fangirl-fangirl kpop di belahan dunia manapun rela nabung demi liat idol favoritnya, beli album, merchandise, ngasih birthday event, dan lain sebagainya. Saya juga mengerti gimana rasanya kalau orang-orang sekitar menganggap kita berlebihan dan antipati karena kita suka kpop. For me as until now, these hard-working and talented boys have been helping me to get through heartbreaks and hard times, and of course my good times as well. I am feeling loved just because I am listening to their songs. And their endearing personalities and silly jokes could make me laugh like all the problems were washed away. 

Kalau dibandingin dengan fans club sepakbola gimana? Bisa jadi sama aja. Sama-sama suka nongkrongin beritanya, mereka nonton pertandingan, kita nonton performance atau MV. Sama-sama beli merchandise juga. Untuk fans akut bisa niat banget nabung demi nonton pertandingan di stadion club favorit atau ikutan fansigning juga. Sama aja kayak fans yang niat nonton konser atau ikut fansigning pas lagi promo album.

Well, people could choose what they like and what’s makes them happy. So, let’s just respect each other, ok?

niat awal pengen liat dedek2 gemes tp ada adegan beginian. terlalu seru!! #exoluxion #exoluxionina #exoluxionjkt #exo

A post shared by Nissa Aulia Ardiani (@nissacacil) on

terlaluuuu~~~ #exoluxionina #exoluxionjkt

A post shared by Nissa Aulia Ardiani (@nissacacil) on

Advertisements

Hang on, buddies!

Beberapa waktu belakangan ini, saya mulai bertemu kembali dengan teman-teman yang baru saja pulang setelah mencari ilmu di negeri lain. Memang benar pada akhirnya obrolan kami banyak seputar kisah suka duka hidup jauh dari tanah air, tentang kehidupan sekolah dan juga kehidupan di sana pada umumnya. Tapi, obrolan yang paling seru sebenarnya adalah tentang bagaimana rasanya ketika kembali memulai kehidupan di tempat tinggal asalnya masing-masing. Atau, yang sering disebut sebagai Reverse Culture Shock.

Kembali ke negeri Ibu Pertiwi, bagi saya ternyata tidak seindah yang dipikirkan saat packing barang-barang dan buku-buku sesaat sebelum pulang. Setelah melewati hari, bulan, dan tahun di tempat yang sudah seharusnya sangat familiar, rasanya malah menjadi tempat asing jika idealisme, pengetahuan, dan pengalaman baru ini digunakan. Saya paham betul, sebelum memutuskan untuk meninggalkan Indonesia, bertumpuk-tumpuk permasalahan memang sudah terjadi dan membutuhkan penyelesaian. Karena kalau tidak ada permasalahan ini, tidak mungkin juga saya niat mencari dan berjuang untuk mendapatkan beasiswa sekolah ke luar negeri. Apalagi beasiswa pemerintah yang saya tahu asalnya dari mana.

Sebagai salah satu penerima beasiswa pemerintah Indonesia tahun 2014 lalu, saya masih ingat betul apa yang ditanyakan para reviewer dan apa yang saya janjikan terhadap mereka untuk kemajuan Indonesia. Mungkin memang saat itu, saya dan penerima beasiswa lain masih sangat sangat idealis dan memiliki mimpi yang sangat besar untuk memajukan negara ini. Saat berkesempatan menimba ilmu dan hidup di negara lain pun saya sangat merasa bersyukur dan beruntung, walaupun beban moril yang ada di pundak ini tetap melekat sampai sekarang dan nanti.

Memang saya jadi sering membandingkan mengapa di sini begini padahal di luar negeri  bisa begitu atau di teori kan harusnya begitu. Mulai dari hal kecil sampai hal besar. Kalau dibandingkan negaranya, mungkin tidak semuanya bisa apple to apple. Kalau  yang kami bandingkan adalah hal yang terlihat secara fisik, mungkin permasalahan struktur, sejarah, dan budaya negara beserta komponennya sangat berpengaruh. Saya juga mengerti batasan dan kemampuan yang dimiliki Indonesia saat ini. Tapi, kalau yang saya bandingkan adalah etika, moral, perilaku, dan common sense bagaimana? Toh berbuat kebaikan dan menjauhi keburukan sudah disepakati oleh agama, etnis, dan suku apapun. I am not talking that I am perfect already for these things either but at least I am trying to.

Nah, pertanyaannya apakah salah bila menginginkan sesuatu yang ideal dengan mencari dan membandingkan preseden yang baik?

Yang membuat saya sering mengeluh sebenarnya adalah karena saya merasa terlalu powerless untuk menghadapi dan mencoba mengurangi permasalahan yang ada. Apalagi kalau masyarakat yang dihadapi masih banyak yang skeptis untuk membuat perubahan ke arah yang baik. Bahkan tidak jarang juga saya dinilai terlalu idealis dan berlebihan, karena tidak mau mengikuti arus, atau ‘irama yang sedang bergoyang’.

Well. For all of the people who still have an idealism or ever feel reverse culture shock, yet still trying to do all those tiny things and efforts to improve this lovely country, Hang on, buddies! You’re doing great! I know it’s not an easy task. But let’s hope that we would eventually reach that point. 

A better Indonesia.

Cheers!

 

Bonus: Look at this video that pissed me off yesterday.

Transportasi publik dan stasiun yang arsitektural di Munich

Seperti biasa, lagi di angkot pulang ke rumah tiba-tiba inget beberapa stasiun subway di Munich yang menarik banget desainnya tidak seperti stasiun subway di kota atau negara lain. Jadi ceritanya di hari ke-26 aka hari terakhir eurotrip saya tahun 2015 lalu, saya menutup perjalanan dengan solotrip mengunjungi beberapa stasiun S-Bahn dan U-Bahn di kota Munich. Saat jalan-jalan sehari sebelumnya, saya sering transit di Marienplatz (Munich city center) dan mulai sadar kalau beberapa stasiun subwaynya kok bagus dan sangat arsitektural. Padahal tujuan utama ke Munich tadinya cuma pengen liat Allianz Arena biar bikin sirik Bapak di rumah. hehehe. Kemudian saya pun langsung googling mencari stasiun subway lain siapa tau ada stasiun lain yang menarik untuk dikunjungi.

And, bingo!

IMG_20151014_175541

Marienplatz subway station, one of the busiest train station, designed by Alexander von Branca

Left to right: Candidplatz U1, Westfriedhof U1, Hasenbergl U2

IMG_20151014_161737

IMG_20151014_153818

St.-Quirin-Platz U1 (the curved glass) and Georg-Brauchle-Ring U1 (the colorful rectangles)

Munich adalah ibu kota dan salah satu kota terbesar di Jerman. Jadi tidak aneh jika beberapa stasiun memang niat didesain dengan tema tertentu, dengan menggunakan warna, material, pencahayaan, dll. Untuk saya pribadi, desain berbentuk visual di stasiun seperti ini sangat menarik dan akan lebih mudah diingat apalagi jika stasiun ini adalah tempat transit untuk berganti rute kereta. Desain ini juga membuat sesuatu yang tadinya monoton (misal rutinitas berpindah dari satu tempat ke tempat lain) menjadi lebih menyenangkan dan tidak terlalu membosankan.

Selain itu, sistem S-Bahn dan U-Bahn disini juga termasuk mudah, gampang banget malah. Jalur atau rutenya sangat jelas dan terbaca dengan mudah. Ada beberapa stasiun besar yang berjejer horizontal di tengah (barat-timur) yang dilewati jalur subway yang mengarah ke utara dan selatan untuk menjangkau daerah yang lebih luas. Kalau liat peta jalur subway disini, saya langsung inget Bandung. Kebayang kalau jejeran stasiun horizontal itu membentang dari Jatinangor sampai Pasteur (timur-barat), dan untuk menjangkau daerah lain pakai rute yang utara-selatan. Teorinya sih keliatannya gampang yaa tapi prakteknya yaa gitu deh..

Munich-S-U-Bahn-Map

Munich’s U-Bahn and S-Bahn train map (https://www.chameleonwebservices.co.uk/blog/munich-u-bahn-map/)

Mungkin saya sudah pernah cerita sebelumnya kalau saya memang senang naik transportasi umum, apalagi kalau sistemnya mudah dan integrated seperti ini. Dari sekian kota yang pernah saya kunjungi di Eropa, menurut saya Munich adalah yang paling mudah transportasinya. Jalan-jalan di sana tinggal download peta ini atau banyak juga peta tercetak dalam ukuran yang kecil tapi tetap mudah dibaca. Hampir semua atraksi untuk turis di kota Munich dapat dicapai dengan subway dan saya rasa daerah lain (industrial, perkantoran, dan permukiman) pasti mudah dijangkau juga. Selain itu, ada berbagai macam tiket kereta terusan yang bisa dibeli di mesin di stasiun sesuai kebutuhan.

Kalau di kota-kota besar di Indonesia sistem transportasi umumnya mudah, aman, tepat waktu, stasiun dan terminalnya bagus, serta harga tiketnya terjangkau, kira-kira warganya banyak yang mau pakai transportasi umum ngga yaa??

 

IMG_20151013_173234

Gloomy Munich, Allianz Arena, and me (October 2015)

 

 

 

 

fate, timing, and a heartbreak

“Fate does not come to you at just anytime. It should happen, often at the most dramatic moments brought by coincidence. That is what makes it fate. That is why, another term for fate, is timing. My first love was always held back by that damn ‘timing’.

In the end, fate and timing do not happen, out of coincidence. They are products of earnest, simple choices, that make up miraculous moments. Being resolute, making decisions without hesitation… that is what makes timing. He wanted her more than I did. And I should have been more courageous. It was not the traffic light’s fault. It was not timing. It was my hesitations.

Life is like a box of chocolates, you’ll never know what you’re gonna get. You may get a bitter chocolate and there’s nothing else you can do. That is the fate that I’ve chosen. There are no regrets, no tears and there is no need for a heartbreak.” -Jung Hwan, Reply 1988.

reply-1988-poster-540x764

 

Buat para penggemar Kdrama mungkin kalimat-kalimat di atas sudah tidak asing lagi. Itu adalah narasi di adegan film Reply 1988 (Answer me 1988) episode 18. It was the most heartbroken scene I’ve ever watched. Saking kecewanya nonton episode ini, butuh waktu beberapa minggu untuk melanjutkan 2 episode selanjutnya. Bukan hanya karena acting pemainnya yang superb, tapi karena adegan ini terlalu relate dengan pengalaman saya. Before there might be too much feeling involved in real love life, one tends to build his/her own wall just to protect himself/herself from the heartbreak. Because one-sided love is the worst, right?

 

Keep going while wait

I read this somewhere, and somehow this could keep me going for now.

“While you’re on your formative years (and she mean up to 25 or even longer), don’t stop your journey for someone else to derail it. You go on your journey (study, work, travel) and if someone really loves you, they’ll go parallel to you until the time is right to board on the same train. Do not let someone take you off your path, keep your eye on the destination and be persistent.

You’ll find a person your heart wants to be with desperately, and if that person wants to be with you, their heart should feel the same way.”

image

This photo was taken at the station on the way back to Osaka Airport (KIX), Japan, Spring 2017

transportasi publik di Bandung

Cuma ingin sharing, karena ada beberapa orang yang nanya kenapa saya masih mau naik kendaraan umum di Bandung selama setahun terakhir setelah saya kembali ke kota ini. Sebenarnya banyak sih alasannya.. (maaf ini akan panjang)

Pertama, jarak dari rumah orang tua (di daerah Arcamanik-Ujung Berung) itu sekitar 10 km dari kampus ITB dan kebetulan dekat dengan jalan utama AH Nasution dimana banyak angkot lewat situ. Kalau naik angkot pink jurusan Gedebage-Dago, saya tinggal duduk manis dari depan kompleks rumah sampai RS. Borromeus dan tarifnya sangat murah sekitar Rp 6000 saja. Walaupun sering juga diturunin sebelum sampai tujuan karena penumpang tinggal saya sendiri. Saya naik angkot ini sudah dari 2007 saat kuliah dulu jadi yaa anggap aja nostalgia dikit. Oiya, akibatnya sekarang sneakers saya jadi lebih banyak daripada sepatu atau sendal cantik karena jalanan becek tuh rrrrrr 😅

Kedua, setelah hampir 1 dekade waktu tempuh yang tadinya hanya sekitar 40 menit bisa jadi 150 menit kalau bawa mobil pribadi dan macetnya lagi ngga karuan. Logikanya sih kalau naik kendaraan dengan kecepatan 40km/jam harusnya cuma 15 menit, tapi diliat dari jumlah kendaraan berbanding panjang dan lebar jalan sekarang, ini agak sulit. Ditambah lagi jumlah penduduk di kota dan kabupaten Bandung sekarang berapa, dan banyak yang pakai kendaraan pribadi. Kebayang kan? Kalau saya sih selain emang ngga punya juga (ada sih mobil orang tua yang jarang dipakai) terus mikirin bensin, parkir, nyuci, dan nyetirnya, belom kalau nyenggol sesuatu. hmm 😩. Untuk sekarang karena belum ada tanggungan, tabungannya mending buat yang lain aja atau jalan-jalan. 😂

Ketiga, jalanan yang makin macet ini sekarang sudah didukung oleh beberapa aplikasi baru seperti uber, gojek, grab. Terus terang ini yang paling menjawab kebutuhan saya saat ini. Karena naik angkot lama dan ngetem, naik mobil pribadi juga sama macetnya malah bikin cape sendiri, dan saya ngga berani nyetir motor di Bandung, saya pilih naik gojek kalau buru-buru, dan naik gocar/uber kalau hujan dan kemaleman. Jadi ngga perlu minta orang rumah untuk jemput. Biayanya pun setelah dihitung masih lebih murah dari sewa kostan deket kampus atau bawa mobil sendiri.

Keempat, karena rute perjalanan angkot saya sangat jauh, saya senang liat dan memperhatikan berbagai macam orang dan perubahan pembangunan kota di Bandung. Kadang menarik juga loh ngeliat anak SD, SMP, SMA, dan kuliah jaman sekarang kaya gimana. Atau ngeliatin hal-hal yang dilewati selama perjalanan, kalau nyetir mobil sendiri, rasanya susah dan bahaya. Kalau emang saya sudah terlalu capek, paling tinggal pasang headset aja dengerin lagu atau browsing2 internet. Sering juga saya ngobrol basa-basi sama supir angkot atau penumpang lain. Hal ini yang menjadi daily reminder untuk saya selalu bersyukur dan waspada setiap saat.

Terakhir, sebenernya memilih untuk tidak memakai kendaraan milik pribadi adalah cara saya untuk protes. Sehingga saya memiliki hak yang utuh untuk mengeluh jika jalanan semakin padat dan macet meradang dimana-mana. Setidaknya, keberadaan saya tidak menuh-menuhin jalanan dengan tidak membawa mobil sendiri dan jika diliat dari sisi ilmiah, gas CO yang dikeluarkan dari kendaraan bermotor yang saya tumpangi dibagi rata dengan driver dan penumpang lain. Isu tentang sumber daya alam tak terbarukan yang sudah hampir habis, global warming, efek rumah kaca, dan kerusakan lingkungan lainnya tentunya (harusnya) semua penduduk Indonesia terutama kota besar yang notabene lebih ‘pintar’ sudah pada tau dan paham dong yaa..

Kadang gemes liat Bandung yang makin lama kok jadi begini. Makin macet dan rudet. Inginnya sih kota besar di Indonesia transportasi publiknya bisa integrated dan bagus seperti di luar negeri. Mba-mba cantik dan mas-mas ganteng di London, New York, Amsterdam, Paris, Berlin, Munich, Milan, Madrid, Seoul, dan kota-kota besar lainnya di luaran sana aja mau naik bus atau subway. Bahkan pernah liat mba dan mas di Venice mau pesta udah dandan maksimal tetep naik perahu umum bareng yang lain. 😅 Coba bayangin kalau kita naik kereta dari Bandung Timur ke Pusat Kota bisa kurang dari 20 menit aja. Atau naik bus biar yang difable atau bawa stroller bayi tetep bisa naik dan turun kendaraan dengan mudah. Memang dalam beberapa tahun terakhir sudah keliatan loh usaha pemkot untuk mengubah Bandung jadi lebih baik. Tapi kalau usaha mereka yang baik ini tidak didukung oleh masyarakatnya, buat apa?