Hang on, buddies!

Beberapa waktu belakangan ini, saya mulai bertemu kembali dengan teman-teman yang baru saja pulang setelah mencari ilmu di negeri lain. Memang benar pada akhirnya obrolan kami banyak seputar kisah suka duka hidup jauh dari tanah air, tentang kehidupan sekolah dan juga kehidupan di sana pada umumnya. Tapi, obrolan yang paling seru sebenarnya adalah tentang bagaimana rasanya ketika kembali memulai kehidupan di tempat tinggal asalnya masing-masing. Atau, yang sering disebut sebagai Reverse Culture Shock.

Kembali ke negeri Ibu Pertiwi, bagi saya ternyata tidak seindah yang dipikirkan saat packing barang-barang dan buku-buku sesaat sebelum pulang. Setelah melewati hari, bulan, dan tahun di tempat yang sudah seharusnya sangat familiar, rasanya malah menjadi tempat asing jika idealisme, pengetahuan, dan pengalaman baru ini digunakan. Saya paham betul, sebelum memutuskan untuk meninggalkan Indonesia, bertumpuk-tumpuk permasalahan memang sudah terjadi dan membutuhkan penyelesaian. Karena kalau tidak ada permasalahan ini, tidak mungkin juga saya niat mencari dan berjuang untuk mendapatkan beasiswa sekolah ke luar negeri. Apalagi beasiswa pemerintah yang saya tahu asalnya dari mana.

Sebagai salah satu penerima beasiswa pemerintah Indonesia tahun 2014 lalu, saya masih ingat betul apa yang ditanyakan para reviewer dan apa yang saya janjikan terhadap mereka untuk kemajuan Indonesia. Mungkin memang saat itu, saya dan penerima beasiswa lain masih sangat sangat idealis dan memiliki mimpi yang sangat besar untuk memajukan negara ini. Saat berkesempatan menimba ilmu dan hidup di negara lain pun saya sangat merasa bersyukur dan beruntung, walaupun beban moril yang ada di pundak ini tetap melekat sampai sekarang dan nanti.

Memang saya jadi sering membandingkan mengapa di sini begini padahal di luar negeri  bisa begitu atau di teori kan harusnya begitu. Mulai dari hal kecil sampai hal besar. Kalau dibandingkan negaranya, mungkin tidak semuanya bisa apple to apple. Kalau  yang kami bandingkan adalah hal yang terlihat secara fisik, mungkin permasalahan struktur, sejarah, dan budaya negara beserta komponennya sangat berpengaruh. Saya juga mengerti batasan dan kemampuan yang dimiliki Indonesia saat ini. Tapi, kalau yang saya bandingkan adalah etika, moral, perilaku, dan common sense bagaimana? Toh berbuat kebaikan dan menjauhi keburukan sudah disepakati oleh agama, etnis, dan suku apapun. I am not talking that I am perfect already for these things either but at least I am trying to.

Nah, pertanyaannya apakah salah bila menginginkan sesuatu yang ideal dengan mencari dan membandingkan preseden yang baik?

Yang membuat saya sering mengeluh sebenarnya adalah karena saya merasa terlalu powerless untuk menghadapi dan mencoba mengurangi permasalahan yang ada. Apalagi kalau masyarakat yang dihadapi masih banyak yang skeptis untuk membuat perubahan ke arah yang baik. Bahkan tidak jarang juga saya dinilai terlalu idealis dan berlebihan, karena tidak mau mengikuti arus, atau ‘irama yang sedang bergoyang’.

Well. For all of the people who still have an idealism or ever feel reverse culture shock, yet still trying to do all those tiny things and efforts to improve this lovely country, Hang on, buddies! You’re doing great! I know it’s not an easy task. But let’s hope that we would eventually reach that point. 

A better Indonesia.

Cheers!

 

Bonus: Look at this video that pissed me off yesterday.

Advertisements

fate, timing, and a heartbreak

“Fate does not come to you at just anytime. It should happen, often at the most dramatic moments brought by coincidence. That is what makes it fate. That is why, another term for fate, is timing. My first love was always held back by that damn ‘timing’.

In the end, fate and timing do not happen, out of coincidence. They are products of earnest, simple choices, that make up miraculous moments. Being resolute, making decisions without hesitation
 that is what makes timing. He wanted her more than I did. And I should have been more courageous. It was not the traffic light’s fault. It was not timing. It was my hesitations.

Life is like a box of chocolates, you’ll never know what you’re gonna get. You may get a bitter chocolate and there’s nothing else you can do. That is the fate that I’ve chosen. There are no regrets, no tears and there is no need for a heartbreak.” -Jung Hwan, Reply 1988.

reply-1988-poster-540x764

 

Buat para penggemar Kdrama mungkin kalimat-kalimat di atas sudah tidak asing lagi. Itu adalah narasi di adegan film Reply 1988 (Answer me 1988) episode 18. It was the most heartbroken scene I’ve ever watched. Saking kecewanya nonton episode ini, butuh waktu beberapa minggu untuk melanjutkan 2 episode selanjutnya. Bukan hanya karena acting pemainnya yang superb, tapi karena adegan ini terlalu relate dengan pengalaman saya. Before there might be too much feeling involved in real love life, one tends to build his/her own wall just to protect himself/herself from the heartbreak. Because one-sided love is the worst, right?

 

Me in the last decade

I think this is the best time to look back for what I did in the last decade.

Career

Dua minggu lalu, saya dan beberapa teman membantu jadi pengawas SBMPTN atau yang zaman saya dulu namanya SPMB. Melihat adik-adik ini saya pun jadi ingat, 10 tahun lalu saya juga pernah berada di posisi mereka. Les bimbel pelajaran, les gambar, dan belajar bareng teman hampir tiap hari untuk persiapan tes masuk perguruan tinggi favorit.

Singkat cerita, saya diterima di Arsitektur ITB tahun 2007 melalui Ujian Saringan Masuk Mandiri. Ujiannya yang pasti sama-sama susah, ada tes gambar, dan ada psikotes yang katanya merupakan penentu bisa diterima atau tidaknya kita di jurusan atau fakultas yang diminati. Menjalani kuliah sekitar 4 tahun di Arsitektur ITB, rasanya banyak sekali pelajaran yang diambil selain materi kuliah di kelas atau tugas studio yang saat itu bebannya 8sks tiap semester. Kegiatan dan rapat himpunan juga cukup menyita waktu walau pengalamannya sangat bermanfaat dan baru kerasa saat lulus kuliah dan kerja sampai sekarang.

Setelah lulus dan wisuda sarjana bulan Oktober 2011, saya sempat bekerja di salah satu perusahaan konstruksi selama 2 tahun dan juga freelance proyek arsitektur, sebelum saya mendapat beasiswa LPDP untuk melanjutkan kuliah master tahun 2014 di University of Nottingham, Inggris. Setahun kemudian saya kembali ke Indonesia dan sampai sekarang mengabdi sebagai asisten di kampus almamater saya, Arsitektur ITB.

Jika baca ini sekilas, mungkin akan ada yang mengira kalau hidup saya mulus sekali. Padahal, kalau memang semuanya sejalan dengan cita-cita dan angan-angan, maunya sih saya sekolah di SMA 5 Bandung, kuliah sarjana di Arsitektur Unpar, lanjut kuliah master di TU Delft Belanda, menikah di umur 25, dan juga bekerja perusahaan BUMN atau di perusahaan multinasional yang penghasilannya pakai dollar atau poundsterling. Tapi apakah itu semua terjadi? Tentu saja tidak. Tapi toh hidup tetap mesti dijalani dan disyukuri, kan?

Akhirnya sampai sekarang jika sesuatu terjadi tidak sesuai rencana, saya selalu berpikir mungkin usaha saya kurang keras, belum rezeki saya, dan Allah punya rencana lain yang lebih baik. Setelah 1 dekade berlalu, sekarang saat melihat lagi ke belakang rasanya semua benang merah mulai terjalin walaupun saya masih belum tahu apa yang akan terjadi di dekade-dekade selanjutnya. Dan saya yakin, yang saya jalani sekarang adalah jalan yang paling baik.

Personality

Selain CV yang berubah dalam 1 dekade terakhir, saya merasa ada hal dalam diri saya yang berubah. Ada yang sempat bilang kalau saya mandiri sekali dan Bapak juga pernah bilang agar saya jangan terlalu mandiri, karena lelaki itu tetap ingin jadi pahlawan. hmm. Mungkin kalau zaman SMA dulu saya masih sangat bergantung sama orang tua, waktu S1 saya punya banyak teman sejurusan yang senasib sepenanggungan dan bisa diajak susah senang bareng. Saat lulus dan mulai kerja, saya mulai sadar bahwa teman-teman sudah punya prioritas dan pilihan hidup masing-masing. Semuanya mencar karena ada yang kerja di luar kota dan luar negeri. Yang masih di Bandung tinggal sedikit dan mulai susah untuk reunian atau sekedar ngumpul, nongkrong, dan makan. Oya, pada masa itulah kami baru memiliki smartphone dan akun social media. Berbeda dengan mahasiswa zaman sekarang yang sudah melek teknologi karena mungkin sudah memiliki ponsel pintar sejak mereka SD.

Salah satu teman kuliah juga pernah bilang kalau setelah kerja saya jadi agak galak dan tegas. Mungkin ini terbawa saat berprofesi sebagai Quality Control Architect di proyek hotel. Disana saya dituntut harus bisa berkomunikasi dengan bos dari kantor, pihak hotel, dan tukang. Akhir tahun 2013, saya ditempatkan di kantor pusat di Jakarta dan merasakan bagaimana hidup dan bekerja di ibukota. Jujur saya enjoy, tapi yang namanya kerja di Jakarta walaupun kostan sudah sangat dekat dari kantor (in my case it was less than 5 minutes walking distance) tetep aja weekend pengennya pulang ke Bandung, merasakan macetnya Ibukota dan perjalanan Jakarta-Bandung lewat tol yang pernah ditempuh lebih dari 7 jam. Hidup di Jakarta setahun lebih rasanya membuat saya menjadi lebih tough, karena saya mulai berani pergi kemana-mana sendiri (untuk urusan belanja kebutuhan di kostan, makan, dan window shopping ke mall).

Setelah resign akhir tahun 2013 dan memutuskan untuk lanjut kuliah S2, saya makin sering melakukan hal sendiri. Mulai dari les bahasa Inggris ke Pare selama 5 minggu, nyari dan ngurus beasiswa sampai keberangkatan pun sendiri. Saat di Nottinghamsaya semakin berani untuk melakukan solo trip ke kota dan negara lain. Alasannya cukup banyak, dan pada dasarnya saya tidak mau merepotkan orang lain. Saya menyadari bahwa menyamakan waktu, itinerary, dan keinginan dari beberapa kepala tidaklah mudah. Kuliah master di Inggris itu bagi saya tiap masa liburan selalu habis untuk mengerjakan tugas atau istirahat, sehingga tidak bisa ikut pergi ke kota lain bersama teman lainnya. Setelah kembali ke Indonesia pun sama, jadwal cuti kerja susah disamakan, sedangkan saya punya keinginan pergi jalan-jalan yang sangat tinggi jika ada kesempatannya. Egois? Kemungkinan besar iya.

Sebenarnya saya memilih jalan-jalan sekarang karena saya tidak ingin menyesal di kemudian hari. Mumpung masih muda belum punya tanggungan dan kesempatannya ada. Sounds so millenials? Yes it is. Saya tahu dan paham sekali mengapa banyak juga orang seumuran saya yang memilih untuk menabung dan berinvestasi atau malah memilih banyak jalan-jalan seperti saya dan berinvestasi di bidang lain, ilmu misalnya. Dalam hal ini saya tidak bisa menyalahkan siapapun karena menurut saya semua pilihan itu baik dan semuanya tetap ada sisi negatifnya juga. Tinggal kitanya yang harus bisa menerima semua resiko untuk semua pilihan yang dijalani.

Dalam beberapa tahun terakhir, saya mulai memilah hal apa yang bisa membuat saya senang dan sedih, mana hal yang berpengaruh ke kehidupan saya atau orang di sekitar dan mana yang tidak. Saya memilih sendiri artikel yang mau saya baca dan jika ada berita baru, tidak ragu saya mengecek dari berbagai macam sumber karena saya tidak mau tertipu oleh berita hoax yang sedang marak di social media dan group chat. I couldn’t care less for something that doesn’t relate to me and I just want to minimise drama in life. Akibatnya saya malah cenderung lebih cuek dan mungkin orang sekitar bisa mengira saya ignorance. 

Love life

Tidak ada hal signifikan terjadi dalam sepuluh tahun terakhir. I think I take everything for granted at that time and too hesitated to make a move. Jika banyak orang bilang bahwa quarter life crisis sangat mempengaruhi para millenials, saya rasa ini benar adanya. Anxiety for the uncertainty with all of social pressures has bothered me for the past two years. When I was too tired, I would just ignore but these would be repeated again and again. This doesn’t mean I don’t want to settle down, I really want it if I could, of course. But I guess the best things take times and it’s about to come. #fingerscrossed

DSCN1183

This photo was taken at Deoksugung Palace, Seoul, South Korea, Autumn 2015

Keep going while wait

I read this somewhere, and somehow this could keep me going for now.

“While you’re on your formative years (and she mean up to 25 or even longer), don’t stop your journey for someone else to derail it. You go on your journey (study, work, travel) and if someone really loves you, they’ll go parallel to you until the time is right to board on the same train. Do not let someone take you off your path, keep your eye on the destination and be persistent.

You’ll find a person your heart wants to be with desperately, and if that person wants to be with you, their heart should feel the same way.”

image

This photo was taken at the station on the way back to Osaka Airport (KIX), Japan, Spring 2017

malam takbiran

Kita memang tidak pernah tahu rencana Tuhan Sang Pemilik alam semesta ini. Tahun lalu, tahun ini, dan tahun depan mungkin cerita hidup tiap orang bisa berbeda.

Tahun ini, saya dan orang tua memutuskan untuk solat Idul Fitri di Bandung, dan baru akan mudik ke Solo malam hari H lebaran. Terakhir solat Idul Fitri di Bandung, 10 tahun lalu. Itupun terpaksa karena ada kejadian mendadak. Well, that was bad memories of mine. Selama 26 tahun ini, rasanya saya hampir selalu berlebaran di Solo, ikut keluarga besar Bapak. Namun tahun ini, bisa bermalam takbiran di kamar sendiri sambil mendengarkan yang lagi takbiran di masjid membuat pikiran melayang-layang ingat lebaran tahun lalu.

Idul Fitri 1436H, saya berlebaran jauh dari orang tua dan kampung halaman, karena sedang tinggal di negara dimana Muslim adalah minoritas. Ramadhan 2015, saya berpuasa lebih dari 18 jam sehari, karena disana sedang summer sehingga matahari muncul lebih lama. Rasanya dalam sebulan pola hidup berubah total karena jarak waktu buka puasa dan sahur yang beda tipis. Ditambah mengerjakan tesis, sempat ada heatwave juga, dan puncak-puncaknya homesick. Menjelang lebaran, di supermarket atau pusat perbelanjaan tidak ada promo-promo untuk makanan dan perlengkapan Idul Fitri. Malam takbiran, saya masak-masak dengan housemates sambil memasang video takbiran dari youtube di dapur. Tidak seperti di Indonesia, pulau Jawa khususnya, dimana suara gema takbir terdengar bersaut-sautan.  Seusai solat Ied pun, yang ritual biasanya sungkeman dengan orang tua dan keluarga besar, mau video call dengan mereka aja sulit karena terkendala sinyal telepon yang tidak stabil di kampung. Sedih? Pastinya. Yang membuat saya bisa bertahan disana adalah keberadaan teman-teman seperjuangan yang juga mengalami hal yang sama ditambah doa orang tua yang kayanya ngga pernah putus..

Pengalaman setahun tinggal jauh dari rumah merupakan salah satu pendewasaan saya. Sekarang, sepertinya pola pikir saya mulai sedikit berubah. Terutama dalam mengambil keputusan atau menghadapi masalah. Kalau kata bukunya Diana Rikasari, ‘I have made peace with the fact that life can be so hard and unfair at times, and that’s okay. I just need to toughen up and be grateful about many other things.’ Karena itu, kadang saya terlihat lebih cuek, logis, dan galak.

Tahun depan, saya masih belum bisa membayangkan akan seperti apa. Rencana mungkin ada, tapi kenyataannya akan bagaimana, we’ll see..

pilihan sulit di Desember 2013

Kalau orang bilang makin tua pilihan hidup makin sulit dan semua keputusan akan ngaruh ke kehidupan selanjutnya, mungkin emang ada benernya kali yaa….

Desember 2013 dan taun baru 2014 adalah masa-masa paling ‘mikir’ selama hidup saya sampai sekarang *lebay sedikit*. Waktu itu kontrak kerja udah abis dan lagi proses perpanjang, pengen lanjut kuliah lagi dan cari beasiswa, tapi toefl masih jongkok banget. 😩

Semenjak pertengahan 2013 saya emang udah mulai browsing sana sini nyari kampus dan jurusan incaran, beasiswa, beserta semua persyaratannya. Sambil curi-curi jam kerja, saya mulai bikin motivation letter dkk. Saya udah beberapa kali ngobrol sama Dept Head tentang rencana lanjut sekolah ini. Tiap weekend saya juga bolak-balik Bandung-Jakarta untuk les privat Toefl sama temen (les di Jakarta superrr banget mahalnya hufff). Awal Desember, saya coba simulation test nya Toefl Ibt untuk ngecek kemampuan, ternyata hasilnya jauuuuuh banget dari target.

Pikiran untuk resign juga sering terlintas karena kalau saat itu perpanjang kontrak setahun lagi, sulit untuk ngejar sekolah yang mulai autumn 2014. Walaupun dari atasan sama orang personalia dan hrd di kantor akhirnya mengizinkan kalau saya perpanjang kontrak hanya beberapa bulan saja sebelum pertengahan tahun 2014 untuk persiapan sekolah dan cari beasiswa. Tapi, ngobrol sama beberapa teman yang berencana kuliah lagi tahun 2014 juga liat teman yang lagi lanjut kuliah di luar negeri sebenernya jadi alasan utama kenapa saya ngebet banget pengen resign aja, yaa walaupun jadinya pengalaman kerja cuma 2 tahun.. 

Kerjaan kantor mendadak membludak menjelang akhir tahun. Nyiapin berkas jadi agak sulit karena deadline daftar sekolah dan beasiswa rata-rata sekitar bulan Maret-April. Kalau mau aman sih dapetin loa (letter of acceptance) dari kampus secepat mungkin karena proses beasiswa bisa lebih dari 3 bulan. Kepala makin nyut-nyutan kalau inget hasil simulasi tes Ibt soalnya tes aslinya juga mahal jadi persiapan tes bahasa inggris ini juga emang ngga bisa asal-asalan. Setelah mem-breakdown plus minus kalau lanjut kerja atau resign dan apply sekolah lagi, diskusi sama keluarga dan meyakinkan diri sendiri, akhirnya saya memberanikan diri ngajuin resign ke kantor akhir taun 2013. Alhamdulillah Dept Head dan HRD menyetujui walaupun keitungnya cuma 2 weeks notice, tinggal beresin semua kerjaan biar ngga jadi utang. 🙂

Saya pulang ke Bandung for good pas libur Natal, karena kantor libur sampai Tahun Baru. Niat hati mau serius belajar Toefl di rumah, tapi ternyata banyak banget distraksinya. Malam Tahun Baru 2014 saya habiskan untuk mikir lagi saya maunya apa, kurangnya apa, solusinya kira-kira apa, dan masih banyak lagi. And guess what?? Saya memutuskan untuk berangkat ke kampung Inggris di Pare, Kediri.