Me in the last decade

I think this is the best time to look back for what I did in the last decade.

Career

Dua minggu lalu, saya dan beberapa teman membantu jadi pengawas SBMPTN atau yang zaman saya dulu namanya SPMB. Melihat adik-adik ini saya pun jadi ingat, 10 tahun lalu saya juga pernah berada di posisi mereka. Les bimbel pelajaran, les gambar, dan belajar bareng teman hampir tiap hari untuk persiapan tes masuk perguruan tinggi favorit.

Singkat cerita, saya diterima di Arsitektur ITB tahun 2007 melalui Ujian Saringan Masuk Mandiri. Ujiannya yang pasti sama-sama susah, ada tes gambar, dan ada psikotes yang katanya merupakan penentu bisa diterima atau tidaknya kita di jurusan atau fakultas yang diminati. Menjalani kuliah sekitar 4 tahun di Arsitektur ITB, rasanya banyak sekali pelajaran yang diambil selain materi kuliah di kelas atau tugas studio yang saat itu bebannya 8sks tiap semester. Kegiatan dan rapat himpunan juga cukup menyita waktu walau pengalamannya sangat bermanfaat dan baru kerasa saat lulus kuliah dan kerja sampai sekarang.

Setelah lulus dan wisuda sarjana bulan Oktober 2011, saya sempat bekerja di salah satu perusahaan konstruksi selama 2 tahun dan juga freelance proyek arsitektur, sebelum saya mendapat beasiswa LPDP untuk melanjutkan kuliah master tahun 2014 di University of Nottingham, Inggris. Setahun kemudian saya kembali ke Indonesia dan sampai sekarang mengabdi sebagai asisten di kampus almamater saya, Arsitektur ITB.

Jika baca ini sekilas, mungkin akan ada yang mengira kalau hidup saya mulus sekali. Padahal, kalau memang semuanya sejalan dengan cita-cita dan angan-angan, maunya sih saya sekolah di SMA 5 Bandung, kuliah sarjana di Arsitektur Unpar, lanjut kuliah master di TU Delft Belanda, menikah di umur 25, dan juga bekerja perusahaan BUMN atau di perusahaan multinasional yang penghasilannya pakai dollar atau poundsterling. Tapi apakah itu semua terjadi? Tentu saja tidak. Tapi toh hidup tetap mesti dijalani dan disyukuri, kan?

Akhirnya sampai sekarang jika sesuatu terjadi tidak sesuai rencana, saya selalu berpikir mungkin usaha saya kurang keras, belum rezeki saya, dan Allah punya rencana lain yang lebih baik. Setelah 1 dekade berlalu, sekarang saat melihat lagi ke belakang rasanya semua benang merah mulai terjalin walaupun saya masih belum tahu apa yang akan terjadi di dekade-dekade selanjutnya. Dan saya yakin, yang saya jalani sekarang adalah jalan yang paling baik.

Personality

Selain CV yang berubah dalam 1 dekade terakhir, saya merasa ada hal dalam diri saya yang berubah. Ada yang sempat bilang kalau saya mandiri sekali dan Bapak juga pernah bilang agar saya jangan terlalu mandiri, karena lelaki itu tetap ingin jadi pahlawan. hmm. Mungkin kalau zaman SMA dulu saya masih sangat bergantung sama orang tua, waktu S1 saya punya banyak teman sejurusan yang senasib sepenanggungan dan bisa diajak susah senang bareng. Saat lulus dan mulai kerja, saya mulai sadar bahwa teman-teman sudah punya prioritas dan pilihan hidup masing-masing. Semuanya mencar karena ada yang kerja di luar kota dan luar negeri. Yang masih di Bandung tinggal sedikit dan mulai susah untuk reunian atau sekedar ngumpul, nongkrong, dan makan. Oya, pada masa itulah kami baru memiliki smartphone dan akun social media. Berbeda dengan mahasiswa zaman sekarang yang sudah melek teknologi karena mungkin sudah memiliki ponsel pintar sejak mereka SD.

Salah satu teman kuliah juga pernah bilang kalau setelah kerja saya jadi agak galak dan tegas. Mungkin ini terbawa saat berprofesi sebagai Quality Control Architect di proyek hotel. Disana saya dituntut harus bisa berkomunikasi dengan bos dari kantor, pihak hotel, dan tukang. Akhir tahun 2013, saya ditempatkan di kantor pusat di Jakarta dan merasakan bagaimana hidup dan bekerja di ibukota. Jujur saya enjoy, tapi yang namanya kerja di Jakarta walaupun kostan sudah sangat dekat dari kantor (in my case it was less than 5 minutes walking distance) tetep aja weekend pengennya pulang ke Bandung, merasakan macetnya Ibukota dan perjalanan Jakarta-Bandung lewat tol yang pernah ditempuh lebih dari 7 jam. Hidup di Jakarta setahun lebih rasanya membuat saya menjadi lebih tough, karena saya mulai berani pergi kemana-mana sendiri (untuk urusan belanja kebutuhan di kostan, makan, dan window shopping ke mall).

Setelah resign akhir tahun 2013 dan memutuskan untuk lanjut kuliah S2, saya makin sering melakukan hal sendiri. Mulai dari les bahasa Inggris ke Pare selama 5 minggu, nyari dan ngurus beasiswa sampai keberangkatan pun sendiri. Saat di Nottinghamsaya semakin berani untuk melakukan solo trip ke kota dan negara lain. Alasannya cukup banyak, dan pada dasarnya saya tidak mau merepotkan orang lain. Saya menyadari bahwa menyamakan waktu, itinerary, dan keinginan dari beberapa kepala tidaklah mudah. Kuliah master di Inggris itu bagi saya tiap masa liburan selalu habis untuk mengerjakan tugas atau istirahat, sehingga tidak bisa ikut pergi ke kota lain bersama teman lainnya. Setelah kembali ke Indonesia pun sama, jadwal cuti kerja susah disamakan, sedangkan saya punya keinginan pergi jalan-jalan yang sangat tinggi jika ada kesempatannya. Egois? Kemungkinan besar iya.

Sebenarnya saya memilih jalan-jalan sekarang karena saya tidak ingin menyesal di kemudian hari. Mumpung masih muda belum punya tanggungan dan kesempatannya ada. Sounds so millenials? Yes it is. Saya tahu dan paham sekali mengapa banyak juga orang seumuran saya yang memilih untuk menabung dan berinvestasi atau malah memilih banyak jalan-jalan seperti saya dan berinvestasi di bidang lain, ilmu misalnya. Dalam hal ini saya tidak bisa menyalahkan siapapun karena menurut saya semua pilihan itu baik dan semuanya tetap ada sisi negatifnya juga. Tinggal kitanya yang harus bisa menerima semua resiko untuk semua pilihan yang dijalani.

Dalam beberapa tahun terakhir, saya mulai memilah hal apa yang bisa membuat saya senang dan sedih, mana hal yang berpengaruh ke kehidupan saya atau orang di sekitar dan mana yang tidak. Saya memilih sendiri artikel yang mau saya baca dan jika ada berita baru, tidak ragu saya mengecek dari berbagai macam sumber karena saya tidak mau tertipu oleh berita hoax yang sedang marak di social media dan group chat. I couldn’t care less for something that doesn’t relate to me and I just want to minimise drama in life. Akibatnya saya malah cenderung lebih cuek dan mungkin orang sekitar bisa mengira saya ignorance. 

Love life

Tidak ada hal signifikan terjadi dalam sepuluh tahun terakhir. I think I take everything for granted at that time and too hesitated to make a move. Jika banyak orang bilang bahwa quarter life crisis sangat mempengaruhi para millenials, saya rasa ini benar adanya. Anxiety for the uncertainty with all of social pressures has bothered me for the past two years. When I was too tired, I would just ignore but these would be repeated again and again. This doesn’t mean I don’t want to settle down, I really want it if I could, of course. But I guess the best things take times and it’s about to come. #fingerscrossed

DSCN1183

This photo was taken at Deoksugung Palace, Seoul, South Korea, Autumn 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s