transportasi publik di Bandung

Cuma ingin sharing, karena ada beberapa orang yang nanya kenapa saya masih mau naik kendaraan umum di Bandung selama setahun terakhir setelah saya kembali ke kota ini. Sebenarnya banyak sih alasannya.. (maaf ini akan panjang)

Pertama, jarak dari rumah orang tua (di daerah Arcamanik-Ujung Berung) itu sekitar 10 km dari kampus ITB dan kebetulan dekat dengan jalan utama AH Nasution dimana banyak angkot lewat situ. Kalau naik angkot pink jurusan Gedebage-Dago, saya tinggal duduk manis dari depan kompleks rumah sampai RS. Borromeus dan tarifnya sangat murah sekitar Rp 6000 saja. Walaupun sering juga diturunin sebelum sampai tujuan karena penumpang tinggal saya sendiri. Saya naik angkot ini sudah dari 2007 saat kuliah dulu jadi yaa anggap aja nostalgia dikit. Oiya, akibatnya sekarang sneakers saya jadi lebih banyak daripada sepatu atau sendal cantik karena jalanan becek tuh rrrrrr πŸ˜…

Kedua, setelah hampir 1 dekade waktu tempuh yang tadinya hanya sekitar 40 menit bisa jadi 150 menit kalau bawa mobil pribadi dan macetnya lagi ngga karuan. Logikanya sih kalau naik kendaraan dengan kecepatan 40km/jam harusnya cuma 15 menit, tapi diliat dari jumlah kendaraan berbanding panjang dan lebar jalan sekarang, ini agak sulit. Ditambah lagi jumlah penduduk di kota dan kabupaten Bandung sekarang berapa, dan banyak yang pakai kendaraan pribadi. Kebayang kan? Kalau saya sih selain emang ngga punya juga (ada sih mobil orang tua yang jarang dipakai) terus mikirin bensin, parkir, nyuci, dan nyetirnya, belom kalau nyenggol sesuatu. hmm 😩. Untuk sekarang karena belum ada tanggungan, tabungannya mending buat yang lain aja atau jalan-jalan. πŸ˜‚

Ketiga, jalanan yang makin macet ini sekarang sudah didukung oleh beberapa aplikasi baru seperti uber, gojek, grab. Terus terang ini yang paling menjawab kebutuhan saya saat ini. Karena naik angkot lama dan ngetem, naik mobil pribadi juga sama macetnya malah bikin cape sendiri, dan saya ngga berani nyetir motor di Bandung, saya pilih naik gojek kalau buru-buru, dan naik gocar/uber kalau hujan dan kemaleman. Jadi ngga perlu minta orang rumah untuk jemput. Biayanya pun setelah dihitung masih lebih murah dari sewa kostan deket kampus atau bawa mobil sendiri.

Keempat, karena rute perjalanan angkot saya sangat jauh, saya senang liat dan memperhatikan berbagai macam orang dan perubahan pembangunan kota di Bandung. Kadang menarik juga loh ngeliat anak SD, SMP, SMA, dan kuliah jaman sekarang kaya gimana. Atau ngeliatin hal-hal yang dilewati selama perjalanan, kalau nyetir mobil sendiri, rasanya susah dan bahaya. Kalau emang saya sudah terlalu capek, paling tinggal pasang headset aja dengerin lagu atau browsing2 internet. Sering juga saya ngobrol basa-basi sama supir angkot atau penumpang lain. Hal ini yang menjadi daily reminder untuk saya selalu bersyukur dan waspada setiap saat.

Terakhir, sebenernya memilih untuk tidak memakai kendaraan milik pribadi adalah cara saya untuk protes. Sehingga saya memiliki hak yang utuh untuk mengeluh jika jalanan semakin padat dan macet meradang dimana-mana. Setidaknya, keberadaan saya tidak menuh-menuhin jalanan dengan tidak membawa mobil sendiri dan jika diliat dari sisi ilmiah, gas CO yang dikeluarkan dari kendaraan bermotor yang saya tumpangi dibagi rata dengan driver dan penumpang lain. Isu tentang sumber daya alam tak terbarukan yang sudah hampir habis, global warming, efek rumah kaca, dan kerusakan lingkungan lainnya tentunya (harusnya) semua penduduk Indonesia terutama kota besar yang notabene lebih ‘pintar’ sudah pada tau dan paham dong yaa..

Kadang gemes liat Bandung yang makin lama kok jadi begini. Makin macet dan rudet. Inginnya sih kota besar di Indonesia transportasi publiknya bisa integrated dan bagus seperti di luar negeri. Mba-mba cantik dan mas-mas ganteng di London, New York, Amsterdam, Paris, Berlin, Munich, Milan, Madrid, Seoul, dan kota-kota besar lainnya di luaran sana aja mau naik bus atau subway. Bahkan pernah liat mba dan mas di Venice mau pesta udah dandan maksimal tetep naik perahu umum bareng yang lain. πŸ˜… Coba bayangin kalau kita naik kereta dari Bandung Timur ke Pusat Kota bisa kurang dari 20 menit aja. Atau naik bus biar yang difable atau bawa stroller bayi tetep bisa naik dan turun kendaraan dengan mudah. Memang dalam beberapa tahun terakhir sudah keliatan loh usaha pemkot untuk mengubah Bandung jadi lebih baik. Tapi kalau usaha mereka yang baik ini tidak didukung oleh masyarakatnya, buat apa?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s