Fangirls noona

Jadi gini, sebenarnya saya tau kpop itu udah lumayan lama, sejak jaman kuliah sarjana di taun 2008an. Dulu di himpunan ikutan kelompok minat yang nari-nari jadi mulai saat itu kami sering ngikutin atau cari inspirasi gerakan dari SNSD, F(x), Super Junior, dll. Saat itu juga lagi hits banget di kampus sampai ada yang pasang personil SNSD sebagai wallpaper komputer dan ada juga yang punya harddisk khusus buat video-video mereka. Tapi saya masih belum bisa menerima boygroup untuk jadi idola karena lagunya tidak sesuai selera. Saya juga suka mempertanyakan teman-teman yang rela bayar tiket konser jutaan rupiah saat mereka datang ke Indonesia.

Oya, untuk Kdrama, saya mulai nonton dari zaman Full house tahun 2004 (drama terfavorit sampai sekarang). Sejak saat itu saya lumayan rajin nonton serial Kdrama di tv atau di dvd, karena internet saat itu belum semumpuni sekarang. Saya juga hanya mendengarkan beberapa soundtrack film saja karena lagu dan liriknya bagus-bagus. Tahun 2013, saya akhirnya mulai hanyut ke dunia per-kpopan lagi setelah denger CNBlue. Tapi hanya mereka aja yang lagunya pas sama selera saat itu.

Sampai 2015 saya sudah jarang mendengarkan CNBlue, tapi untuk OST film sih masih ada di playlist. Dan akhirnya, April 2015 saya jatuh ke dalam per-kpopan lagi karena saat itu saya sedang merantau di tempat yang kecepatan internetnya amat sangat mendukung proses fangirling. Jadi ada anak bernama Park Chanyeol dan grupnya bernama EXO dari label group SM Entertainment. Awalnya saya ngga tau ada yang namanya boyband EXO di muka bumi ini, padahal saya tau boygroup dan girlgroup seniornya dari label yang sama, saya juga nonton Kdrama It’s Okay That’s Love yang mana ada DO, anggota EXO juga. Tau Park Chanyeol juga gara-gara nonton Roommates karena saya suka Lee Dongwook. Mulailah saya cari EXO di youtube, wikipedia, fanpage, dailymotion, tumblr, dan website lain untuk mencari tau personality nya, semua reality show yang ada merekanya, sampai kemelut yang ada di grup tersebut karena 3 member yang mengundurkan diri, dan hal-hal lainnya.

Yang membuat saya langsung suka sama dedek2 EXO ini ¬†adalah lagunya pas sama selera, kebanyakan genrenya hip hop dan RnB, lagu ballads nya juara, dan dancenya tuh, DUH! Jadi pengen nari lagi. Performance di konser-konsernya¬†A+++. Their vocals tho!!! Saya pernah bahas ini sama temen, jadi kalau¬†Chen atau Kim Jongdae itu suaranya kaya ‘Tequila shot on a friday night’, Byun Baekhyun itu kaya ‘Honey milky in a spring breeze’, bahkan humming aja¬†indah, Do Kyungsoo itu kaya ‘Hot Chocolate in a snowy winter’. And of course Park Chanyeol with his baritone and deep and low voice, finally this group slowly push me into this hole until now, 2017.

Setelah 2 tahun lebih mengenal mereka dari video-video di layar komputer dan handphone, beli beberapa album, dan nonton konser, akhirnya saya sadar dan mengerti kenapa fangirl-fangirl kpop di belahan dunia manapun rela nabung demi liat idol favoritnya, beli album, merchandise, ngasih birthday event, dan lain sebagainya. Saya juga mengerti gimana rasanya kalau orang-orang sekitar menganggap kita berlebihan dan antipati karena kita suka kpop. For me as until now, these hard-working and talented boys have been helping me to get through heartbreaks and hard times, and of course my good times as well. I am feeling loved just because I am listening to their songs. And their endearing personalities and silly jokes could make me laugh like all the problems were washed away. 

Kalau dibandingin dengan fans club sepakbola gimana? Bisa jadi sama aja. Sama-sama suka nongkrongin beritanya, mereka nonton pertandingan, kita nonton performance atau MV. Sama-sama beli merchandise juga. Untuk fans akut bisa niat banget nabung demi nonton pertandingan di stadion club favorit atau ikutan fansigning juga. Sama aja kayak fans yang niat nonton konser atau ikut fansigning pas lagi promo album.

Well, people could choose what they like and what’s makes them happy. So, let’s just respect each other, ok?

niat awal pengen liat dedek2 gemes tp ada adegan beginian. terlalu seru!! #exoluxion #exoluxionina #exoluxionjkt #exo

A post shared by Nissa Aulia Ardiani (@nissacacil) on

terlaluuuu~~~ #exoluxionina #exoluxionjkt

A post shared by Nissa Aulia Ardiani (@nissacacil) on

Advertisements

Hang on, buddies!

Beberapa waktu belakangan ini, saya mulai bertemu kembali dengan teman-teman yang baru saja pulang setelah mencari ilmu di negeri lain. Memang benar pada akhirnya obrolan kami banyak seputar kisah suka duka hidup jauh dari tanah air, tentang kehidupan sekolah dan juga kehidupan di sana pada umumnya. Tapi, obrolan yang paling seru sebenarnya adalah tentang bagaimana rasanya ketika kembali memulai kehidupan di tempat tinggal asalnya masing-masing. Atau, yang sering disebut sebagai Reverse Culture Shock.

Kembali ke negeri Ibu Pertiwi, bagi saya ternyata tidak seindah yang dipikirkan saat packing barang-barang dan buku-buku sesaat sebelum pulang. Setelah melewati hari, bulan, dan tahun di tempat yang sudah seharusnya sangat familiar, rasanya malah menjadi tempat asing jika idealisme, pengetahuan, dan pengalaman baru ini digunakan. Saya paham betul, sebelum memutuskan untuk meninggalkan Indonesia, bertumpuk-tumpuk permasalahan memang sudah terjadi dan membutuhkan penyelesaian. Karena kalau tidak ada permasalahan ini, tidak mungkin juga saya niat mencari dan berjuang untuk mendapatkan beasiswa sekolah ke luar negeri. Apalagi beasiswa pemerintah yang saya tahu asalnya dari mana.

Sebagai salah satu penerima beasiswa pemerintah Indonesia tahun 2014 lalu, saya masih ingat betul apa yang ditanyakan para reviewer dan apa yang saya janjikan terhadap mereka untuk kemajuan Indonesia. Mungkin memang saat itu, saya dan penerima beasiswa lain masih sangat sangat idealis dan memiliki mimpi yang sangat besar untuk memajukan negara ini. Saat berkesempatan menimba ilmu dan hidup di negara lain pun saya sangat merasa bersyukur dan beruntung, walaupun beban moril yang ada di pundak ini tetap melekat sampai sekarang dan nanti.

Memang saya jadi sering membandingkan mengapa di sini begini padahal di luar negeri  bisa begitu atau di teori kan harusnya begitu. Mulai dari hal kecil sampai hal besar. Kalau dibandingkan negaranya, mungkin tidak semuanya bisa apple to apple. Kalau  yang kami bandingkan adalah hal yang terlihat secara fisik, mungkin permasalahan struktur, sejarah, dan budaya negara beserta komponennya sangat berpengaruh. Saya juga mengerti batasan dan kemampuan yang dimiliki Indonesia saat ini. Tapi, kalau yang saya bandingkan adalah etika, moral, perilaku, dan common sense bagaimana? Toh berbuat kebaikan dan menjauhi keburukan sudah disepakati oleh agama, etnis, dan suku apapun. I am not talking that I am perfect already for these things either but at least I am trying to.

Nah, pertanyaannya apakah salah bila menginginkan sesuatu yang ideal dengan mencari dan membandingkan preseden yang baik?

Yang membuat saya sering mengeluh sebenarnya adalah karena saya merasa terlalu powerless untuk menghadapi dan mencoba mengurangi permasalahan yang ada. Apalagi kalau masyarakat yang dihadapi masih banyak yang skeptis untuk membuat perubahan ke arah yang baik. Bahkan tidak jarang juga saya dinilai terlalu idealis dan berlebihan, karena tidak mau mengikuti arus, atau ‘irama yang sedang bergoyang’.

Well. For all of the people who still have an idealism or ever feel reverse culture shock, yet still trying to do all those tiny things and efforts to improve this lovely country, Hang on, buddies! You’re doing great! I know it’s not an easy task. But let’s hope that we would eventually reach that point.¬†

A better Indonesia.

Cheers!

 

Bonus: Look at this video that pissed me off yesterday.

Transportasi publik dan stasiun yang arsitektural di Munich

Seperti biasa, lagi di angkot pulang ke rumah tiba-tiba inget beberapa stasiun subway di Munich yang menarik banget desainnya tidak seperti stasiun subway di kota atau negara lain. Jadi ceritanya di hari ke-26 aka hari terakhir eurotrip saya tahun 2015 lalu, saya menutup perjalanan dengan solotrip mengunjungi beberapa stasiun S-Bahn dan U-Bahn di kota Munich. Saat jalan-jalan sehari sebelumnya, saya sering transit di Marienplatz (Munich city center) dan mulai sadar kalau beberapa stasiun subwaynya kok bagus dan sangat arsitektural. Padahal tujuan utama ke Munich tadinya cuma pengen liat Allianz Arena biar bikin sirik Bapak di rumah. hehehe. Kemudian saya pun langsung googling mencari stasiun subway lain siapa tau ada stasiun lain yang menarik untuk dikunjungi.

And, bingo!

IMG_20151014_175541

Marienplatz subway station, one of the busiest train station, designed by Alexander von Branca

Left to right: Candidplatz U1, Westfriedhof U1, Hasenbergl U2

IMG_20151014_161737

IMG_20151014_153818

St.-Quirin-Platz U1 (the curved glass) and Georg-Brauchle-Ring U1 (the colorful rectangles)

Munich adalah ibu kota dan salah satu kota terbesar di Jerman. Jadi tidak aneh jika beberapa stasiun memang niat didesain dengan tema tertentu, dengan menggunakan warna, material, pencahayaan, dll. Untuk saya pribadi, desain berbentuk visual di stasiun seperti ini sangat menarik dan akan lebih mudah diingat apalagi jika stasiun ini adalah tempat transit untuk berganti rute kereta. Desain ini juga membuat sesuatu yang tadinya monoton (misal rutinitas berpindah dari satu tempat ke tempat lain) menjadi lebih menyenangkan dan tidak terlalu membosankan.

Selain itu, sistem S-Bahn dan U-Bahn disini juga termasuk mudah, gampang banget malah. Jalur atau rutenya sangat jelas dan terbaca dengan mudah. Ada beberapa stasiun besar yang berjejer horizontal di tengah (barat-timur) yang dilewati jalur subway yang mengarah ke utara dan selatan untuk menjangkau daerah yang lebih luas. Kalau liat peta jalur subway disini, saya langsung inget Bandung. Kebayang kalau jejeran stasiun horizontal itu membentang dari Jatinangor sampai Pasteur (timur-barat), dan untuk menjangkau daerah lain pakai rute yang utara-selatan. Teorinya sih keliatannya gampang yaa tapi prakteknya yaa gitu deh..

Munich-S-U-Bahn-Map

Munich’s U-Bahn and S-Bahn train map¬†(https://www.chameleonwebservices.co.uk/blog/munich-u-bahn-map/)

Mungkin saya sudah pernah cerita sebelumnya kalau saya memang senang naik transportasi umum, apalagi kalau sistemnya mudah dan integrated seperti ini. Dari sekian kota yang pernah saya kunjungi di Eropa, menurut saya Munich adalah yang paling mudah transportasinya. Jalan-jalan di sana tinggal download peta ini atau banyak juga peta tercetak dalam ukuran yang kecil tapi tetap mudah dibaca. Hampir semua atraksi untuk turis di kota Munich dapat dicapai dengan subway dan saya rasa daerah lain (industrial, perkantoran, dan permukiman) pasti mudah dijangkau juga. Selain itu, ada berbagai macam tiket kereta terusan yang bisa dibeli di mesin di stasiun sesuai kebutuhan.

Kalau di kota-kota besar di Indonesia sistem transportasi umumnya mudah, aman, tepat waktu, stasiun dan terminalnya bagus, serta harga tiketnya terjangkau, kira-kira warganya banyak yang mau pakai transportasi umum ngga yaa??

 

IMG_20151013_173234

Gloomy Munich, Allianz Arena, and me (October 2015)

 

 

 

 

Cari sekolah S2 dan beasiswa

Disclaimer: This post was in my draft since ages ago and I don’t know why I didn’t finish and published it.¬†Semua yang saya alami ini sesuai dengan keadaan dan persyaratan beasiswa LPDP pada saat itu (2014), kemungkinan besar untuk sekarang sudah sangat berbeda.¬†So, better check their website or ask their representatives for the newest scholarship information.

10662135_10204360209102269_5026128237766556375_o

This photo was taken at UoN campus dormitory for the welcoming week just so we can adjust with the new environment, Autumn 2014. 

Saat memutuskan ingin lanjut S2, saya mencoba browsing kesana kemari mencari sekolah dan jurusan yang diminati. Semenjak Tugas akhir S1 dulu saya memang tertarik dengan facade design atau yang berhubungan dengan sustainable building dan building technology. Kemudian, ada beberapa kampus yang saya incar yang memiliki jurusan yang saya minati ini. 2 di Belanda, 1 di Jerman, 1 di Hong kong, dan 1 di Singapore. Persyaratan di kampus-kampus ini juga kemudian dipelajari sehingga bisa dipersiapkan semua berkasnya.

Dua kali tes IELTS di Bandung, ternyata hasilnya kurang dari target dan persyaratan kampus incaran saya. Karena waktu yang sudah cukup mepet juga (saat itu bulan Maret 2014), akhirnya saya mencoba cari kampus lain dan muncullah jurusan Sustainable Building Technology di University of Nottingham (UoN), Inggris. Awalnya saya tidak pernah ngeh ada jurusan yang pas banget dengan minat saya, atau mungkin karena kampus di Inggris memang tidak pernah mampir di benak saya. Setelah mengurus semua persyaratan, termasuk motivation letter, recommendation letter dari Dosen waktu S1 juga Atasan waktu kerja, dan semua persyaratan yang disebutkan di website UoN, saya pun daftar langsung secara online. Selang beberapa minggu, Alhamdulillah saya mendapat LoA unconditional dari UoN.

Selain daftar ke UoN, saya juga daftar beasiswa KGSP dari pemerintah Korea Selatan yang akhirnya gagal. Mengikuti pameran pendidikan juga sangat bermanfaat. Sewaktu ada pameran pendidikan kampus Inggris, saya berkenalan dengan International Officer dari UoN yang sangat membantu saya saat pengurusan dokumen. Saat ada pameran pendidikan kampus Australia juga, akhirnya saya bisa mendapat LoA conditional dari Monash University. Alhamdulillah..

Berbekal LoA yang saya dapatkan dari UoN dan Monash, saya mencoba daftar beasiswa LPDP, Beasiswa Unggulan, dan beasiswa yang ditawarkan kampus. Namun LoA saja ternyata tidak cukup. LPDP saat itu mensyaratkan untuk beasiswa luar negeri, syarat IELTS harus 6.5 atau Toefl paper based 550 dan nilai saya belum mencapai keduanya. Tapi karena saat itu waktu pelaksanaan seleksi LPDP sudah sangat mepet, akhirnya saya daftar beasiswa untuk dalam negeri saja (pada waktu itu saya memasukkan tujuan kampus ITB walaupun belum melakukan pendaftaran), dengan harapan nanti jika saya lolos seleksi dan saya bisa mengejar persyaratan beasiswa LPDP LN, saya bisa mengajukan perpindahan universitas tujuan ke UoN atau Monash.

Sekitar bulan Juni 2014, saya lolos seleksi administrasi LPDP yang dilanjutkan dengan seleksi wawancara dan leaderless group discussion (LGD).¬†Pewawancara saya saat itu 1 Bapak yang sepertinya dosen teknik, 2 orang ibu yang satu dosen dan yang satu lagi psikolog. Pertanyaan standar saat wawancara yang pasti adalah kenapa saya mau kuliah di jurusan tersebut dan nanti setelah lulus ilmunya mau diapakan. Nah, di awal wawancara ini saya tidak menyebutkan bahwa saya memiliki LoA dari kampus luar negeri. Tapi setelah cukup lama berkelit menjawab mengapa saya tidak mendaftar kampus LN, sang ibu psikolog ini tiba-tiba bilang “Kok sepertinya ada hal yang kamu sembunyikan ya?”. Disinilah akhirnya kemudian saya menunjukkan 2 buah LoA saya. Dan mereka pun bilang akan merekomendasikan agar saya bisa mendapatkan beasiswa ini dengan janji saya harus bisa mengejar tes TOEFL lagi sampai saya bisa mengajukan pindah universitas dan bisa mulai kuliah di bulan September.

Ternyata benar, saya lolos seleksi wawancara dan status saya berubah menjadi awardee LPDP. Setelah itu saya rutin mengikuti tes Toefl (kalau tidak salah 4x). Saya juga mengikuti les privat karena nilai saya hanya kurang beberapa poin saja dari angka 550. Waktu itu saya selalu ingat ada yang bilang bahwa kita tidak pernah tau pada usaha keberapa kita akan berhasil, dan yang bisa kita lakukan hanya berusaha dan berdoa. Saat mengambil hasil tes keempat, akhirnya saya berhasil menembus angka 550, dan melupakan hari terakhir les privat juga tes kelima. Saya langsung mengurus surat pengajuan perpindahan kampus tujuan dan mengikuti Program PK LPDP sebelum berangkat.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil kuliah di Nottingham. Semua persiapan keberangkatan saya sangat mendadak karena waktu yang singkat ditambah libur puasa dan lebaran. Saya harus mencari tempat tinggal, mengurus segala dokumen, visa, dll, sampai tidak ada proper farewell dengan teman dekat. Alhamdulillah, 14 September 2014 saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Inggris, negara yang tidak pernah muncul di benak saya sebelumnya, apalagi bisa tinggal dan melanjutkan sekolah.

God’s plan was awesome, right?

10579980_10204075226857891_1559610044995655595_n

Foto PK 14 dan sertifikatnya. Sudah hampir 3 tahun lalu yaaa..

 

 

fate, timing, and a heartbreak

‚ÄúFate does not come to you at just anytime.¬†It should happen, often at the most dramatic moments brought by coincidence.¬†That is what makes it fate.¬†That is why, another term for fate, is timing.¬†My first love was always held back by that damn ‚Äėtiming’.

In the end, fate and timing do not happen, out of coincidence. They are products of earnest, simple choices, that make up miraculous moments. Being resolute, making decisions without hesitation… that is what makes timing. He wanted her more than I did. And I should have been more courageous. It was not the traffic light’s fault. It was not timing. It was my hesitations.

Life is like a box of chocolates, you‚Äôll never know what you‚Äôre gonna¬†get. You may get a bitter chocolate and there‚Äôs nothing else you can do. That is the fate that I‚Äôve chosen. There are no regrets, no tears and there is no need for a heartbreak.‚ÄĚ -Jung Hwan, Reply 1988.

reply-1988-poster-540x764

 

Buat para penggemar¬†Kdrama¬†mungkin¬†kalimat-kalimat di atas sudah tidak asing lagi. Itu adalah narasi di adegan¬†film Reply 1988 (Answer me 1988) episode 18. It was the most heartbroken scene I’ve ever watched. Saking kecewanya nonton episode ini, butuh waktu beberapa minggu untuk melanjutkan 2 episode selanjutnya.¬†Bukan hanya karena acting pemainnya yang superb, tapi karena adegan ini terlalu relate¬†dengan pengalaman saya. Before there might be too much feeling involved in real love life, one¬†tends to build his/her own wall just to protect himself/herself from the heartbreak.¬†Because one-sided love is the worst, right?

 

Me in the last decade

I think this is the best time to look back for what I did in the last decade.

Career

Dua minggu lalu, saya dan beberapa teman membantu jadi pengawas SBMPTN atau yang zaman saya dulu namanya SPMB. Melihat adik-adik ini saya pun jadi ingat, 10 tahun lalu saya juga pernah berada di posisi mereka. Les bimbel pelajaran, les gambar, dan belajar bareng teman hampir tiap hari untuk persiapan tes masuk perguruan tinggi favorit.

Singkat cerita, saya diterima di Arsitektur ITB tahun 2007 melalui Ujian Saringan Masuk Mandiri. Ujiannya yang pasti sama-sama susah, ada tes gambar, dan ada psikotes yang katanya merupakan penentu bisa diterima atau tidaknya kita di jurusan atau fakultas yang diminati. Menjalani kuliah sekitar 4 tahun di Arsitektur ITB, rasanya banyak sekali pelajaran yang diambil selain materi kuliah di kelas atau tugas studio yang saat itu bebannya 8sks tiap semester. Kegiatan dan rapat himpunan juga cukup menyita waktu walau pengalamannya sangat bermanfaat dan baru kerasa saat lulus kuliah dan kerja sampai sekarang.

Setelah lulus dan wisuda sarjana bulan Oktober 2011, saya sempat bekerja di salah satu perusahaan konstruksi selama 2 tahun dan juga freelance proyek arsitektur, sebelum saya mendapat beasiswa LPDP untuk melanjutkan kuliah master tahun 2014 di University of Nottingham, Inggris. Setahun kemudian saya kembali ke Indonesia dan sampai sekarang mengabdi sebagai asisten di kampus almamater saya, Arsitektur ITB.

Jika baca ini sekilas, mungkin akan ada yang mengira kalau hidup saya mulus sekali. Padahal, kalau memang semuanya sejalan dengan cita-cita dan angan-angan, maunya sih saya sekolah di SMA 5 Bandung, kuliah sarjana di Arsitektur Unpar, lanjut kuliah master di TU Delft Belanda, menikah di umur 25, dan juga bekerja perusahaan BUMN atau di perusahaan multinasional yang penghasilannya pakai dollar atau poundsterling. Tapi apakah itu semua terjadi? Tentu saja tidak. Tapi toh hidup tetap mesti dijalani dan disyukuri, kan?

Akhirnya sampai sekarang jika sesuatu terjadi tidak sesuai rencana, saya selalu berpikir mungkin usaha saya kurang keras, belum rezeki saya, dan Allah punya rencana lain yang lebih baik. Setelah 1 dekade berlalu, sekarang saat melihat lagi ke belakang rasanya semua benang merah mulai terjalin walaupun saya masih belum tahu apa yang akan terjadi di dekade-dekade selanjutnya. Dan saya yakin, yang saya jalani sekarang adalah jalan yang paling baik.

Personality

Selain CV yang berubah dalam 1 dekade terakhir, saya merasa ada hal dalam diri saya yang berubah. Ada yang sempat bilang kalau saya mandiri sekali dan Bapak juga pernah bilang agar saya jangan terlalu mandiri, karena lelaki itu tetap ingin jadi pahlawan. hmm. Mungkin kalau zaman SMA dulu saya masih sangat bergantung sama orang tua, waktu S1 saya punya banyak teman sejurusan yang senasib sepenanggungan dan bisa diajak susah senang bareng. Saat lulus dan mulai kerja, saya mulai sadar bahwa teman-teman sudah punya prioritas dan pilihan hidup masing-masing. Semuanya mencar karena ada yang kerja di luar kota dan luar negeri. Yang masih di Bandung tinggal sedikit dan mulai susah untuk reunian atau sekedar ngumpul, nongkrong, dan makan. Oya, pada masa itulah kami baru memiliki smartphone dan akun social media. Berbeda dengan mahasiswa zaman sekarang yang sudah melek teknologi karena mungkin sudah memiliki ponsel pintar sejak mereka SD.

Salah satu teman kuliah juga pernah bilang kalau setelah kerja saya jadi agak galak dan tegas. Mungkin ini terbawa saat berprofesi sebagai Quality Control Architect di proyek hotel. Disana saya dituntut harus bisa berkomunikasi dengan bos dari kantor, pihak hotel, dan tukang. Akhir tahun 2013, saya ditempatkan di kantor pusat di Jakarta dan merasakan bagaimana hidup dan bekerja di ibukota. Jujur saya enjoy, tapi yang namanya kerja di Jakarta walaupun kostan sudah sangat dekat dari kantor (in my case it was less than 5 minutes walking distance) tetep aja weekend pengennya pulang ke Bandung, merasakan macetnya Ibukota dan perjalanan Jakarta-Bandung lewat tol yang pernah ditempuh lebih dari 7 jam. Hidup di Jakarta setahun lebih rasanya membuat saya menjadi lebih tough, karena saya mulai berani pergi kemana-mana sendiri (untuk urusan belanja kebutuhan di kostan, makan, dan window shopping ke mall).

Setelah resign akhir tahun 2013 dan memutuskan untuk lanjut kuliah S2, saya makin sering melakukan hal sendiri. Mulai dari les bahasa Inggris ke Pare selama 5 minggu, nyari dan ngurus beasiswa sampai keberangkatan pun sendiri. Saat di Nottinghamsaya semakin berani untuk melakukan solo trip ke kota dan negara lain. Alasannya cukup banyak, dan pada dasarnya saya tidak mau merepotkan orang lain. Saya menyadari bahwa menyamakan waktu, itinerary, dan keinginan dari beberapa kepala tidaklah mudah. Kuliah master di Inggris itu bagi saya tiap masa liburan selalu habis untuk mengerjakan tugas atau istirahat, sehingga tidak bisa ikut pergi ke kota lain bersama teman lainnya. Setelah kembali ke Indonesia pun sama, jadwal cuti kerja susah disamakan, sedangkan saya punya keinginan pergi jalan-jalan yang sangat tinggi jika ada kesempatannya. Egois? Kemungkinan besar iya.

Sebenarnya saya memilih jalan-jalan sekarang karena saya tidak ingin menyesal di kemudian hari. Mumpung masih muda belum punya tanggungan dan kesempatannya ada. Sounds so millenials? Yes it is. Saya tahu dan paham sekali mengapa banyak juga orang seumuran saya yang memilih untuk menabung dan berinvestasi atau malah memilih banyak jalan-jalan seperti saya dan berinvestasi di bidang lain, ilmu misalnya. Dalam hal ini saya tidak bisa menyalahkan siapapun karena menurut saya semua pilihan itu baik dan semuanya tetap ada sisi negatifnya juga. Tinggal kitanya yang harus bisa menerima semua resiko untuk semua pilihan yang dijalani.

Dalam beberapa tahun terakhir, saya mulai memilah hal apa yang bisa membuat saya senang dan sedih, mana hal yang berpengaruh ke kehidupan saya atau orang di sekitar dan mana yang tidak. Saya memilih sendiri artikel yang mau saya baca dan jika ada berita baru, tidak ragu saya mengecek dari berbagai macam sumber karena saya tidak mau tertipu oleh berita hoax yang sedang marak di social media dan group chat.¬†I couldn’t care less for something that doesn’t relate to me and I just want to minimise¬†drama in life. Akibatnya saya malah cenderung lebih cuek dan mungkin orang sekitar bisa mengira saya¬†ignorance.¬†

Love life

Tidak ada hal signifikan terjadi dalam sepuluh tahun terakhir. I think¬†I take¬†everything for granted at that time and too hesitated to make a¬†move.¬†Jika banyak orang bilang bahwa¬†quarter life crisis¬†sangat mempengaruhi para millenials,¬†saya rasa ini benar adanya. Anxiety for the uncertainty with all of¬†social pressures has bothered¬†me for the past two years. When I was too tired, I would just ignore but these would be repeated again and again. This doesn’t mean I don’t want to settle down, I really want it if I could, of course. But I guess the best things take times and it’s about to come. #fingerscrossed

DSCN1183

This photo was taken at Deoksugung Palace, Seoul, South Korea, Autumn 2015

Keep going while wait

I read this somewhere, and somehow this could keep me going for now.

“While you’re on your formative years (and she mean up to 25 or even longer), don’t stop your journey for someone else to derail it. You go on your journey (study, work, travel) and if someone really loves you, they’ll go parallel to you until the time is right to board on the same train. Do not let someone take you off your path, keep your eye on the destination and be persistent.

You’ll find a person your heart wants to be with desperately, and if that person wants to be with you, their heart should feel the same way.”

image

This photo was taken at the station on the way back to Osaka Airport (KIX), Japan, Spring 2017