Transportasi publik dan stasiun yang arsitektural di Munich

Seperti biasa, lagi di angkot pulang ke rumah tiba-tiba inget beberapa stasiun subway di Munich yang menarik banget desainnya tidak seperti stasiun subway di kota atau negara lain. Jadi ceritanya di hari ke-26 aka hari terakhir eurotrip saya tahun 2015 lalu, saya menutup perjalanan dengan solotrip mengunjungi beberapa stasiun S-Bahn dan U-Bahn di kota Munich. Saat jalan-jalan sehari sebelumnya, saya sering transit di Marienplatz (Munich city center) dan mulai sadar kalau beberapa stasiun subwaynya kok bagus dan sangat arsitektural. Padahal tujuan utama ke Munich tadinya cuma pengen liat Allianz Arena biar bikin sirik Bapak di rumah. hehehe. Kemudian saya pun langsung googling mencari stasiun subway lain siapa tau ada stasiun lain yang menarik untuk dikunjungi.

And, bingo!

IMG_20151014_175541

Marienplatz subway station, one of the busiest train station, designed by Alexander von Branca

Left to right: Candidplatz U1, Westfriedhof U1, Hasenbergl U2

IMG_20151014_161737

IMG_20151014_153818

St.-Quirin-Platz U1 (the curved glass) and Georg-Brauchle-Ring U1 (the colorful rectangles)

Munich adalah ibu kota dan salah satu kota terbesar di Jerman. Jadi tidak aneh jika beberapa stasiun memang niat didesain dengan tema tertentu, dengan menggunakan warna, material, pencahayaan, dll. Untuk saya pribadi, desain berbentuk visual di stasiun seperti ini sangat menarik dan akan lebih mudah diingat apalagi jika stasiun ini adalah tempat transit untuk berganti rute kereta. Desain ini juga membuat sesuatu yang tadinya monoton (misal rutinitas berpindah dari satu tempat ke tempat lain) menjadi lebih menyenangkan dan tidak terlalu membosankan.

Selain itu, sistem S-Bahn dan U-Bahn disini juga termasuk mudah, gampang banget malah. Jalur atau rutenya sangat jelas dan terbaca dengan mudah. Ada beberapa stasiun besar yang berjejer horizontal di tengah (barat-timur) yang dilewati jalur subway yang mengarah ke utara dan selatan untuk menjangkau daerah yang lebih luas. Kalau liat peta jalur subway disini, saya langsung inget Bandung. Kebayang kalau jejeran stasiun horizontal itu membentang dari Jatinangor sampai Pasteur (timur-barat), dan untuk menjangkau daerah lain pakai rute yang utara-selatan. Teorinya sih keliatannya gampang yaa tapi prakteknya yaa gitu deh..

Munich-S-U-Bahn-Map

Munich’s U-Bahn and S-Bahn train map¬†(https://www.chameleonwebservices.co.uk/blog/munich-u-bahn-map/)

Mungkin saya sudah pernah cerita sebelumnya kalau saya memang senang naik transportasi umum, apalagi kalau sistemnya mudah dan integrated seperti ini. Dari sekian kota yang pernah saya kunjungi di Eropa, menurut saya Munich adalah yang paling mudah transportasinya. Jalan-jalan di sana tinggal download peta ini atau banyak juga peta tercetak dalam ukuran yang kecil tapi tetap mudah dibaca. Hampir semua atraksi untuk turis di kota Munich dapat dicapai dengan subway dan saya rasa daerah lain (industrial, perkantoran, dan permukiman) pasti mudah dijangkau juga. Selain itu, ada berbagai macam tiket kereta terusan yang bisa dibeli di mesin di stasiun sesuai kebutuhan.

Kalau di kota-kota besar di Indonesia sistem transportasi umumnya mudah, aman, tepat waktu, stasiun dan terminalnya bagus, serta harga tiketnya terjangkau, kira-kira warganya banyak yang mau pakai transportasi umum ngga yaa??

 

IMG_20151013_173234

Gloomy Munich, Allianz Arena, and me (October 2015)

 

 

 

 

Cari sekolah S2 dan beasiswa

Disclaimer: This post was in my draft since ages ago and I don’t know why I didn’t finish and published it.¬†Semua yang saya alami ini sesuai dengan keadaan dan persyaratan beasiswa LPDP pada saat itu (2014), kemungkinan besar untuk sekarang sudah sangat berbeda.¬†So, better check their website or ask their representatives for the newest scholarship information.

10662135_10204360209102269_5026128237766556375_o

This photo was taken at UoN campus dormitory for the welcoming week just so we can adjust with the new environment, Autumn 2014. 

Saat memutuskan ingin lanjut S2, saya mencoba browsing kesana kemari mencari sekolah dan jurusan yang diminati. Semenjak Tugas akhir S1 dulu saya memang tertarik dengan facade design atau yang berhubungan dengan sustainable building dan building technology. Kemudian, ada beberapa kampus yang saya incar yang memiliki jurusan yang saya minati ini. 2 di Belanda, 1 di Jerman, 1 di Hong kong, dan 1 di Singapore. Persyaratan di kampus-kampus ini juga kemudian dipelajari sehingga bisa dipersiapkan semua berkasnya.

Dua kali tes IELTS di Bandung, ternyata hasilnya kurang dari target dan persyaratan kampus incaran saya. Karena waktu yang sudah cukup mepet juga (saat itu bulan Maret 2014), akhirnya saya mencoba cari kampus lain dan muncullah jurusan Sustainable Building Technology di University of Nottingham (UoN), Inggris. Awalnya saya tidak pernah ngeh ada jurusan yang pas banget dengan minat saya, atau mungkin karena kampus di Inggris memang tidak pernah mampir di benak saya. Setelah mengurus semua persyaratan, termasuk motivation letter, recommendation letter dari Dosen waktu S1 juga Atasan waktu kerja, dan semua persyaratan yang disebutkan di website UoN, saya pun daftar langsung secara online. Selang beberapa minggu, Alhamdulillah saya mendapat LoA unconditional dari UoN.

Selain daftar ke UoN, saya juga daftar beasiswa KGSP dari pemerintah Korea Selatan yang akhirnya gagal. Mengikuti pameran pendidikan juga sangat bermanfaat. Sewaktu ada pameran pendidikan kampus Inggris, saya berkenalan dengan International Officer dari UoN yang sangat membantu saya saat pengurusan dokumen. Saat ada pameran pendidikan kampus Australia juga, akhirnya saya bisa mendapat LoA conditional dari Monash University. Alhamdulillah..

Berbekal LoA yang saya dapatkan dari UoN dan Monash, saya mencoba daftar beasiswa LPDP, Beasiswa Unggulan, dan beasiswa yang ditawarkan kampus. Namun LoA saja ternyata tidak cukup. LPDP saat itu mensyaratkan untuk beasiswa luar negeri, syarat IELTS harus 6.5 atau Toefl paper based 550 dan nilai saya belum mencapai keduanya. Tapi karena saat itu waktu pelaksanaan seleksi LPDP sudah sangat mepet, akhirnya saya daftar beasiswa untuk dalam negeri saja (pada waktu itu saya memasukkan tujuan kampus ITB walaupun belum melakukan pendaftaran), dengan harapan nanti jika saya lolos seleksi dan saya bisa mengejar persyaratan beasiswa LPDP LN, saya bisa mengajukan perpindahan universitas tujuan ke UoN atau Monash.

Sekitar bulan Juni 2014, saya lolos seleksi administrasi LPDP yang dilanjutkan dengan seleksi wawancara dan leaderless group discussion (LGD).¬†Pewawancara saya saat itu 1 Bapak yang sepertinya dosen teknik, 2 orang ibu yang satu dosen dan yang satu lagi psikolog. Pertanyaan standar saat wawancara yang pasti adalah kenapa saya mau kuliah di jurusan tersebut dan nanti setelah lulus ilmunya mau diapakan. Nah, di awal wawancara ini saya tidak menyebutkan bahwa saya memiliki LoA dari kampus luar negeri. Tapi setelah cukup lama berkelit menjawab mengapa saya tidak mendaftar kampus LN, sang ibu psikolog ini tiba-tiba bilang “Kok sepertinya ada hal yang kamu sembunyikan ya?”. Disinilah akhirnya kemudian saya menunjukkan 2 buah LoA saya. Dan mereka pun bilang akan merekomendasikan agar saya bisa mendapatkan beasiswa ini dengan janji saya harus bisa mengejar tes TOEFL lagi sampai saya bisa mengajukan pindah universitas dan bisa mulai kuliah di bulan September.

Ternyata benar, saya lolos seleksi wawancara dan status saya berubah menjadi awardee LPDP. Setelah itu saya rutin mengikuti tes Toefl (kalau tidak salah 4x). Saya juga mengikuti les privat karena nilai saya hanya kurang beberapa poin saja dari angka 550. Waktu itu saya selalu ingat ada yang bilang bahwa kita tidak pernah tau pada usaha keberapa kita akan berhasil, dan yang bisa kita lakukan hanya berusaha dan berdoa. Saat mengambil hasil tes keempat, akhirnya saya berhasil menembus angka 550, dan melupakan hari terakhir les privat juga tes kelima. Saya langsung mengurus surat pengajuan perpindahan kampus tujuan dan mengikuti Program PK LPDP sebelum berangkat.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil kuliah di Nottingham. Semua persiapan keberangkatan saya sangat mendadak karena waktu yang singkat ditambah libur puasa dan lebaran. Saya harus mencari tempat tinggal, mengurus segala dokumen, visa, dll, sampai tidak ada proper farewell dengan teman dekat. Alhamdulillah, 14 September 2014 saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Inggris, negara yang tidak pernah muncul di benak saya sebelumnya, apalagi bisa tinggal dan melanjutkan sekolah.

God’s plan was awesome, right?

10579980_10204075226857891_1559610044995655595_n

Foto PK 14 dan sertifikatnya. Sudah hampir 3 tahun lalu yaaa..

 

 

fate, timing, and a heartbreak

‚ÄúFate does not come to you at just anytime.¬†It should happen, often at the most dramatic moments brought by coincidence.¬†That is what makes it fate.¬†That is why, another term for fate, is timing.¬†My first love was always held back by that damn ‚Äėtiming’.

In the end, fate and timing do not happen, out of coincidence. They are products of earnest, simple choices, that make up miraculous moments. Being resolute, making decisions without hesitation… that is what makes timing. He wanted her more than I did. And I should have been more courageous. It was not the traffic light’s fault. It was not timing. It was my hesitations.

Life is like a box of chocolates, you‚Äôll never know what you‚Äôre gonna¬†get. You may get a bitter chocolate and there‚Äôs nothing else you can do. That is the fate that I‚Äôve chosen. There are no regrets, no tears and there is no need for a heartbreak.‚ÄĚ -Jung Hwan, Reply 1988.

reply-1988-poster-540x764

 

Buat para penggemar¬†Kdrama¬†mungkin¬†kalimat-kalimat di atas sudah tidak asing lagi. Itu adalah narasi di adegan¬†film Reply 1988 (Answer me 1988) episode 18. It was the most heartbroken scene I’ve ever watched. Saking kecewanya nonton episode ini, butuh waktu beberapa minggu untuk melanjutkan 2 episode selanjutnya.¬†Bukan hanya karena acting pemainnya yang superb, tapi karena adegan ini terlalu relate¬†dengan pengalaman saya. Before there might be too much feeling involved in real love life, one¬†tends to build his/her own wall just to protect himself/herself from the heartbreak.¬†Because one-sided love is the worst, right?

 

Me in the last decade

I think this is the best time to look back for what I did in the last decade.

Career

Dua minggu lalu, saya dan beberapa teman membantu jadi pengawas SBMPTN atau yang zaman saya dulu namanya SPMB. Melihat adik-adik ini saya pun jadi ingat, 10 tahun lalu saya juga pernah berada di posisi mereka. Les bimbel pelajaran, les gambar, dan belajar bareng teman hampir tiap hari untuk persiapan tes masuk perguruan tinggi favorit.

Singkat cerita, saya diterima di Arsitektur ITB tahun 2007 melalui Ujian Saringan Masuk Mandiri. Ujiannya yang pasti sama-sama susah, ada tes gambar, dan ada psikotes yang katanya merupakan penentu bisa diterima atau tidaknya kita di jurusan atau fakultas yang diminati. Menjalani kuliah sekitar 4 tahun di Arsitektur ITB, rasanya banyak sekali pelajaran yang diambil selain materi kuliah di kelas atau tugas studio yang saat itu bebannya 8sks tiap semester. Kegiatan dan rapat himpunan juga cukup menyita waktu walau pengalamannya sangat bermanfaat dan baru kerasa saat lulus kuliah dan kerja sampai sekarang.

Setelah lulus dan wisuda sarjana bulan Oktober 2011, saya sempat bekerja di salah satu perusahaan konstruksi selama 2 tahun dan juga freelance proyek arsitektur, sebelum saya mendapat beasiswa LPDP untuk melanjutkan kuliah master tahun 2014 di University of Nottingham, Inggris. Setahun kemudian saya kembali ke Indonesia dan sampai sekarang mengabdi sebagai asisten di kampus almamater saya, Arsitektur ITB.

Jika baca ini sekilas, mungkin akan ada yang mengira kalau hidup saya mulus sekali. Padahal, kalau memang semuanya sejalan dengan cita-cita dan angan-angan, maunya sih saya sekolah di SMA 5 Bandung, kuliah sarjana di Arsitektur Unpar, lanjut kuliah master di TU Delft Belanda, menikah di umur 25, dan juga bekerja perusahaan BUMN atau di perusahaan multinasional yang penghasilannya pakai dollar atau poundsterling. Tapi apakah itu semua terjadi? Tentu saja tidak. Tapi toh hidup tetap mesti dijalani dan disyukuri, kan?

Akhirnya sampai sekarang jika sesuatu terjadi tidak sesuai rencana, saya selalu berpikir mungkin usaha saya kurang keras, belum rezeki saya, dan Allah punya rencana lain yang lebih baik. Setelah 1 dekade berlalu, sekarang saat melihat lagi ke belakang rasanya semua benang merah mulai terjalin walaupun saya masih belum tahu apa yang akan terjadi di dekade-dekade selanjutnya. Dan saya yakin, yang saya jalani sekarang adalah jalan yang paling baik.

Personality

Selain CV yang berubah dalam 1 dekade terakhir, saya merasa ada hal dalam diri saya yang berubah. Ada yang sempat bilang kalau saya mandiri sekali dan Bapak juga pernah bilang agar saya jangan terlalu mandiri, karena lelaki itu tetap ingin jadi pahlawan. hmm. Mungkin kalau zaman SMA dulu saya masih sangat bergantung sama orang tua, waktu S1 saya punya banyak teman sejurusan yang senasib sepenanggungan dan bisa diajak susah senang bareng. Saat lulus dan mulai kerja, saya mulai sadar bahwa teman-teman sudah punya prioritas dan pilihan hidup masing-masing. Semuanya mencar karena ada yang kerja di luar kota dan luar negeri. Yang masih di Bandung tinggal sedikit dan mulai susah untuk reunian atau sekedar ngumpul, nongkrong, dan makan. Oya, pada masa itulah kami baru memiliki smartphone dan akun social media. Berbeda dengan mahasiswa zaman sekarang yang sudah melek teknologi karena mungkin sudah memiliki ponsel pintar sejak mereka SD.

Salah satu teman kuliah juga pernah bilang kalau setelah kerja saya jadi agak galak dan tegas. Mungkin ini terbawa saat berprofesi sebagai Quality Control Architect di proyek hotel. Disana saya dituntut harus bisa berkomunikasi dengan bos dari kantor, pihak hotel, dan tukang. Akhir tahun 2013, saya ditempatkan di kantor pusat di Jakarta dan merasakan bagaimana hidup dan bekerja di ibukota. Jujur saya enjoy, tapi yang namanya kerja di Jakarta walaupun kostan sudah sangat dekat dari kantor (in my case it was less than 5 minutes walking distance) tetep aja weekend pengennya pulang ke Bandung, merasakan macetnya Ibukota dan perjalanan Jakarta-Bandung lewat tol yang pernah ditempuh lebih dari 7 jam. Hidup di Jakarta setahun lebih rasanya membuat saya menjadi lebih tough, karena saya mulai berani pergi kemana-mana sendiri (untuk urusan belanja kebutuhan di kostan, makan, dan window shopping ke mall).

Setelah resign akhir tahun 2013 dan memutuskan untuk lanjut kuliah S2, saya makin sering melakukan hal sendiri. Mulai dari les bahasa Inggris ke Pare selama 5 minggu, nyari dan ngurus beasiswa sampai keberangkatan pun sendiri. Saat di Nottinghamsaya semakin berani untuk melakukan solo trip ke kota dan negara lain. Alasannya cukup banyak, dan pada dasarnya saya tidak mau merepotkan orang lain. Saya menyadari bahwa menyamakan waktu, itinerary, dan keinginan dari beberapa kepala tidaklah mudah. Kuliah master di Inggris itu bagi saya tiap masa liburan selalu habis untuk mengerjakan tugas atau istirahat, sehingga tidak bisa ikut pergi ke kota lain bersama teman lainnya. Setelah kembali ke Indonesia pun sama, jadwal cuti kerja susah disamakan, sedangkan saya punya keinginan pergi jalan-jalan yang sangat tinggi jika ada kesempatannya. Egois? Kemungkinan besar iya.

Sebenarnya saya memilih jalan-jalan sekarang karena saya tidak ingin menyesal di kemudian hari. Mumpung masih muda belum punya tanggungan dan kesempatannya ada. Sounds so millenials? Yes it is. Saya tahu dan paham sekali mengapa banyak juga orang seumuran saya yang memilih untuk menabung dan berinvestasi atau malah memilih banyak jalan-jalan seperti saya dan berinvestasi di bidang lain, ilmu misalnya. Dalam hal ini saya tidak bisa menyalahkan siapapun karena menurut saya semua pilihan itu baik dan semuanya tetap ada sisi negatifnya juga. Tinggal kitanya yang harus bisa menerima semua resiko untuk semua pilihan yang dijalani.

Dalam beberapa tahun terakhir, saya mulai memilah hal apa yang bisa membuat saya senang dan sedih, mana hal yang berpengaruh ke kehidupan saya atau orang di sekitar dan mana yang tidak. Saya memilih sendiri artikel yang mau saya baca dan jika ada berita baru, tidak ragu saya mengecek dari berbagai macam sumber karena saya tidak mau tertipu oleh berita hoax yang sedang marak di social media dan group chat.¬†I couldn’t care less for something that doesn’t relate to me and I just want to minimise¬†drama in life. Akibatnya saya malah cenderung lebih cuek dan mungkin orang sekitar bisa mengira saya¬†ignorance.¬†

Love life

Tidak ada hal signifikan terjadi dalam sepuluh tahun terakhir. I think¬†I take¬†everything for granted at that time and too hesitated to make a¬†move.¬†Jika banyak orang bilang bahwa¬†quarter life crisis¬†sangat mempengaruhi para millenials,¬†saya rasa ini benar adanya. Anxiety for the uncertainty with all of¬†social pressures has bothered¬†me for the past two years. When I was too tired, I would just ignore but these would be repeated again and again. This doesn’t mean I don’t want to settle down, I really want it if I could, of course. But I guess the best things take times and it’s about to come. #fingerscrossed

DSCN1183

This photo was taken at Deoksugung Palace, Seoul, South Korea, Autumn 2015

Keep going while wait

I read this somewhere, and somehow this could keep me going for now.

“While you’re on your formative years (and she mean up to 25 or even longer), don’t stop your journey for someone else to derail it. You go on your journey (study, work, travel) and if someone really loves you, they’ll go parallel to you until the time is right to board on the same train. Do not let someone take you off your path, keep your eye on the destination and be persistent.

You’ll find a person your heart wants to be with desperately, and if that person wants to be with you, their heart should feel the same way.”

image

This photo was taken at the station on the way back to Osaka Airport (KIX), Japan, Spring 2017

transportasi publik di Bandung

Cuma ingin sharing, karena ada beberapa orang yang nanya kenapa saya masih mau naik kendaraan umum di Bandung selama setahun terakhir setelah saya kembali ke kota ini. Sebenarnya banyak sih alasannya.. (maaf ini akan panjang)

Pertama, jarak dari rumah orang tua (di daerah Arcamanik-Ujung Berung) itu sekitar 10 km dari kampus ITB dan kebetulan dekat dengan jalan utama AH Nasution dimana banyak angkot lewat situ. Kalau naik angkot pink jurusan Gedebage-Dago, saya tinggal duduk manis dari depan kompleks rumah sampai RS. Borromeus dan tarifnya sangat murah sekitar Rp 6000 saja. Walaupun sering juga diturunin sebelum sampai tujuan karena penumpang tinggal saya sendiri. Saya naik angkot ini sudah dari 2007 saat kuliah dulu jadi yaa anggap aja nostalgia dikit. Oiya, akibatnya sekarang sneakers saya jadi lebih banyak daripada sepatu atau sendal cantik karena jalanan becek tuh rrrrrr ūüėÖ

Kedua, setelah hampir 1 dekade waktu tempuh yang tadinya hanya sekitar 40 menit bisa jadi 150 menit kalau bawa mobil pribadi dan macetnya lagi ngga karuan. Logikanya sih kalau naik kendaraan dengan kecepatan 40km/jam harusnya cuma 15 menit, tapi diliat dari jumlah kendaraan berbanding panjang dan lebar jalan sekarang, ini agak sulit. Ditambah lagi jumlah penduduk di kota dan kabupaten Bandung sekarang berapa, dan banyak yang pakai kendaraan pribadi. Kebayang kan? Kalau saya sih selain emang ngga punya juga (ada sih mobil orang tua yang jarang dipakai) terus mikirin bensin, parkir, nyuci, dan nyetirnya, belom kalau nyenggol sesuatu. hmm ūüė©. Untuk sekarang karena belum ada tanggungan, tabungannya mending buat yang lain aja atau jalan-jalan. ūüėā

Ketiga, jalanan yang makin macet ini sekarang sudah didukung oleh beberapa aplikasi baru seperti uber, gojek, grab. Terus terang ini yang paling menjawab kebutuhan saya saat ini. Karena naik angkot lama dan ngetem, naik mobil pribadi juga sama macetnya malah bikin cape sendiri, dan saya ngga berani nyetir motor di Bandung, saya pilih naik gojek kalau buru-buru, dan naik gocar/uber kalau hujan dan kemaleman. Jadi ngga perlu minta orang rumah untuk jemput. Biayanya pun setelah dihitung masih lebih murah dari sewa kostan deket kampus atau bawa mobil sendiri.

Keempat, karena rute perjalanan angkot saya sangat jauh, saya senang liat dan memperhatikan berbagai macam orang dan perubahan pembangunan kota di Bandung. Kadang menarik juga loh ngeliat anak SD, SMP, SMA, dan kuliah jaman sekarang kaya gimana. Atau ngeliatin hal-hal yang dilewati selama perjalanan, kalau nyetir mobil sendiri, rasanya susah dan bahaya. Kalau emang saya sudah terlalu capek, paling tinggal pasang headset aja dengerin lagu atau browsing2 internet. Sering juga saya ngobrol basa-basi sama supir angkot atau penumpang lain. Hal ini yang menjadi daily reminder untuk saya selalu bersyukur dan waspada setiap saat.

Terakhir, sebenernya memilih untuk tidak memakai kendaraan milik pribadi adalah cara saya untuk protes. Sehingga saya memiliki hak yang utuh untuk mengeluh jika jalanan semakin padat dan macet meradang dimana-mana. Setidaknya, keberadaan saya tidak menuh-menuhin jalanan dengan tidak membawa mobil sendiri dan jika diliat dari sisi ilmiah, gas CO yang dikeluarkan dari kendaraan bermotor yang saya tumpangi dibagi rata dengan driver dan penumpang lain. Isu tentang sumber daya alam tak terbarukan yang sudah hampir habis, global warming, efek rumah kaca, dan kerusakan lingkungan lainnya tentunya (harusnya) semua penduduk Indonesia terutama kota besar yang notabene lebih ‘pintar’ sudah pada tau dan paham dong yaa..

Kadang gemes liat Bandung yang makin lama kok jadi begini. Makin macet dan rudet. Inginnya sih kota besar di Indonesia transportasi publiknya bisa integrated dan bagus seperti di luar negeri. Mba-mba cantik dan mas-mas ganteng di London, New York, Amsterdam, Paris, Berlin, Munich, Milan, Madrid, Seoul, dan kota-kota besar lainnya di luaran sana aja mau naik bus atau subway. Bahkan pernah liat mba dan mas di Venice mau pesta udah dandan maksimal tetep naik perahu umum bareng yang lain. ūüėÖ Coba bayangin kalau kita naik kereta dari Bandung Timur ke Pusat Kota bisa kurang dari 20 menit aja. Atau naik bus biar yang difable atau bawa stroller bayi tetep bisa naik dan turun kendaraan dengan mudah. Memang dalam beberapa tahun terakhir sudah keliatan loh usaha pemkot untuk mengubah Bandung jadi lebih baik. Tapi kalau usaha mereka yang baik ini tidak didukung oleh masyarakatnya, buat apa?

malam takbiran

Kita memang tidak pernah tahu rencana Tuhan Sang Pemilik alam semesta ini. Tahun lalu, tahun ini, dan tahun depan mungkin cerita hidup tiap orang bisa berbeda.

Tahun ini, saya dan orang tua memutuskan untuk solat Idul Fitri di Bandung, dan baru akan mudik ke Solo malam hari H lebaran. Terakhir solat Idul Fitri di Bandung, 10 tahun lalu. Itupun terpaksa karena ada kejadian mendadak. Well, that was bad memories of mine. Selama 26 tahun ini, rasanya saya hampir selalu berlebaran di Solo, ikut keluarga besar Bapak. Namun tahun ini, bisa bermalam takbiran di kamar sendiri sambil mendengarkan yang lagi takbiran di masjid membuat pikiran melayang-layang ingat lebaran tahun lalu.

Idul Fitri 1436H, saya berlebaran jauh dari orang tua dan kampung halaman, karena sedang tinggal di negara dimana Muslim adalah minoritas. Ramadhan 2015, saya berpuasa lebih dari 18 jam sehari, karena disana sedang summer sehingga matahari muncul lebih lama. Rasanya dalam sebulan pola hidup berubah total karena jarak waktu buka puasa dan sahur yang beda tipis. Ditambah mengerjakan tesis, sempat ada heatwave juga, dan puncak-puncaknya homesick. Menjelang lebaran, di supermarket atau pusat perbelanjaan tidak ada promo-promo untuk makanan dan perlengkapan Idul Fitri. Malam takbiran, saya masak-masak dengan housemates sambil memasang video takbiran dari youtube di dapur. Tidak seperti di Indonesia, pulau Jawa khususnya, dimana suara gema takbir terdengar bersaut-sautan.  Seusai solat Ied pun, yang ritual biasanya sungkeman dengan orang tua dan keluarga besar, mau video call dengan mereka aja sulit karena terkendala sinyal telepon yang tidak stabil di kampung. Sedih? Pastinya. Yang membuat saya bisa bertahan disana adalah keberadaan teman-teman seperjuangan yang juga mengalami hal yang sama ditambah doa orang tua yang kayanya ngga pernah putus..

Pengalaman¬†setahun tinggal jauh dari rumah merupakan salah satu pendewasaan saya. Sekarang, sepertinya pola pikir saya mulai sedikit berubah. Terutama dalam mengambil keputusan atau menghadapi masalah. Kalau kata bukunya Diana Rikasari, ‘I have made peace with the fact that life can be so hard and unfair at times, and that’s okay. I just need to toughen up and be grateful about many other things.’ Karena itu, kadang saya terlihat lebih cuek, logis, dan¬†galak.

Tahun depan, saya masih belum bisa membayangkan akan seperti apa. Rencana mungkin ada, tapi kenyataannya akan bagaimana, we’ll see..